Kata “ruang” menjadi bagian dari sikap penting Ruang MES 56 ketika awal kemunculan mereka di awal tahun 2000. Pada masa tersebut, kemunculan Ruang MES 56 berarti memberi ruang pada praktik berkesenian “pinggiran”, yaitu fotografi. Dengan menampilkan foto-foto hasil eksperimen mereka di galeri, mereka berupaya mengukuhkan fotografi sebagai bagian dari praktik berkesenian kontemporer. Galeri merupakan ruang negosiasi nilai seni yang dilakukan MES 56. Saat ini, sebelas tahun setelah kemunculan mereka, ruang dalam MES 56 seharusnya mengembangkan proses negosiasi nilai seni. Kritik yang saya ingin kemukakan adalah praktik berpameran yang selama ini dijalankan oleh MES 56 dan relasi yang terbangun dengan publik. Galeri merupakan titik bertemunya gagasan kelompok dan publik. Seperti dalam museum, ruang pamer merupakan ruang rekonsiliasi antara keingintahuan dan pengkajian, ranah privat dan publik, permainan dan keteraturan. Namun ruang pamer pun jauh dari netralitas yang berupaya dibangunnya. Ada seperangkat aturan dan prakondisi yang membentuk ruang pamer, dan bagaimana tubuh publik bergerak di dalamnya. Relasi tubuh audiens dalam galeri seni mengingatkan saya terhadap deskripsi Chua Beng Huat mengenai relasi tubuh pengunjung dalam pusat perbelanjaan mewah di Singapura. Mayoritas pengunjung tidak datang untuk berbelanja. Aktivitas utama mereka adalah cuci mata. Para pengunjung ini terus bergerak dari satu toko ke toko lain, melihat-lihat dan menahan tubuh untuk tidak terlalu dekat dengan produk-produk mahal yang tidak bisa mereka beli. Hal ini pula yang saya lihat terjadi dalam galeri seni atau ruang pamer apapun. Pengunjung selalu “dipaksa” dalam kondisi yang terus bergerak, namun harus tetap menjaga jarak tubuh dengan “benda seni”. Mungkinkah dalam praktik berpameran yang telah mapan, seni telah bertransformasi sekedar menjadi material atau benda?. Sebagai sebuah ruang eksperimentasi gagasan, mungkin sudah saatnya bagi MES 56 dan ruang-ruang pamer lainnya, untuk membongkar ulang praktik-praktik berpameran yang selama ini dikerjakannya. Pembongkaran materialisasi seni yang telah mapan dan mengaktifkan galeri/ruang pamer sebagai tempat produksi pengetahuan baru. Proyek Danielle Hakim, Here Today Gone Tomorrow dapat dilihat sebagai upaya mendorong batas fungsi galeri dalam sirkulasi pengetahuan di dalam publik. Dengan memanfaatkan media independen seperti zine fotokopian, proyek ini dapat dilihat sebagai upaya untuk menjadi memfasilitasi proses pertukaran ide sekaligus meretas jarak yang terbangun antara audiens dan ruang pamer itu sendiri. Partisipasi dalam produksi pengetahuan terbuka merupakan potensi sikap politis yang dapat diambil oleh seniman, kurator dan ruang-ruang pamer. Politis karena bertentangan dengan upaya privatisasi pengetahuan dan informasi yang dilakukan oleh penyedia layanan informasi dan monopolis media.

On Space and Knowledge: What’s the Importance of Exhibiting Photocopied Zines in Contemporary Photography Gallery?

The word “space” was part of the important positions which developed by Ruang MES 56 when they started in early 2000. During this period, the emergence of Ruang MES 56 had provide a space to the “periphery” art practice, i.e. photography. By displayed their experimental photos at the gallery, they were trying to establish photography as part of the contemporary art practices. Gallery was a negotiations space on art value which conducted by MES 56. Today, eleven years after their emergence, the space in MES 56 should develop the negotiations of  their artistic value. I would like to criticize the exhibition practice which being run by MES 56 and its relation to public. Gallery is a meeting point of ideas between certain group and the public. As in the museum, exhibition room is a space for reconciliation between curiosity and scholarship, the private and the public, whimsical and ordered. But exhibition room is far from neutrality that it seeks to build. There is a set of rules and preconditions that construct an exhibition space and how the bodies of public move within the space. The relation between bodies of audience in the art gallery reminds me of the description about bodies of visitors in luxury shopping center in Singapore, by Chua Beng Huat. Most visitors don’t come to shop. Their main activity is browsing. The visitors continued to move from one store to another, look around and prevent their bodies to not get close with the expensive products which they couldn’t afford. This is also what I see in the art gallery or any exhibition space. Visitors are always “forced” to be in a constant movement, but they still have to keep the distance between their body and “art”. Could it be in the established practice of exhibition, art has been transformed into mere material or objects? As a space for experimentation of ideas, it might be the time for MES 56 and other alternative gallery, to reconstruct their exhibition practices. The reconstruction on materialization of art that have been established and activate gallery as space for the production of new knowledge. Danielle Hakim’s project, Here Today Gone Tomorrow can be seen as an effort to push the boundaries of gallery function within the process of knowledge circulation in public. By using independent media such as photocopied zine, this project can be seen as an attempt to facilitate the exchange of ideas as well as hacks the distance between audience and the gallery itself. Participation in open knowledge production is a political potential that can be taken by artists, curators and exhibition space. Political because contrary to the attempts of information service providers and multimedia- monopolists, who are eager for the privatization of information, knowledge, culture.

Syafiatudina
(Kunci Cultural Studies Center)