[scroll down for English]

Danielle Hakim (l. 1990), adalah seorang seniman asal Melbourne, Australia yang telah menjalani residensi seni di Ruang MES 56 sejak bulan Desember 2012. Ini dalah pertama kalinya ia mengikuti program residensi dan menginjakkan kaki di Indonesia. Selama masa residensinya di MES 56, selain mengadakan workshop tentang pembuatan zine, ia juga membuat proyek/ karya kolaboratif  dengan sembilan orang dari beragam latar belakang: perupa, penulis/ peneliti, seniman tato, desainer, dengan media presentasi yang sama pula.

Zine, yang merupakan kependekan dari fanzine adalah istilah yang paling umum digunakan untuk media yang diterbitkan maupun didistribusikan secara mandiri dalam oplah yang terkadang sangat terbatas, serta lazimnya direproduksi menggunakan mesin fotokopi. Bagi kebanyakan orang, zine hampir selalu diasosiasikan atau identik dengan gerakan-gerakan sub-kultur, anarkisme, maupun segala sesuatu yang berada di luar mainstream. Dalam hal format atau konten, sama sekali tidak ada yang “dianggap baku” dalam zine. Semuanya serba mungkin, teks, drawing/ sketsa, komik, kolase, foto-foto yang dicampur aduk dengan buku teka-teki silang, bahkan resep-resep masakan Barat yang si pembuat zine-nya sendiri juga belum tentu pernah mencicipi maupun mencoba untuk memasaknya. 

Apa yang dikerjakan Dani selama masa residensinya di MES 56, sangatlah jauh berbeda dengan karya-karya ataupun praktik berkesenian yang pernah dilakukan sebelumnya. Mungkin ini yang sering kita sebut sebagai “beranjak dari zona nyaman”, sesuatu yang memang sangat penting bagi proses maupun pengalaman artisitik seorang seniman. Namun juga harus diakui bahwa hal tersebut memang bukan perkara gampang, terlebih-lebih jika kita menambahkan atau menggunakan “kolaborasi” sebagai salah satu kata kuncinya. Bagi sebagian orang atau seniman, mungkin hal itu akan (sangat) menuntut toleransi serta kesabaran ekstra, dan dalam kondisi tertentu, juga menyiratkan banyak arti sekaligus sifat yang saling bertentangan: penuh kejutan, menantang, menyenangkan, atau menyebalkan. Suatu kerja kolaborasi, yang biasanya dimaknai sebagai “bekerja bersama dalam tingkat hubungan horizontal” dengan sembilan orang yang baru saja dikenal, sekali lagi, bukanlah sesuatu yang mudah.

Presentasi proyek residensi Danielle Hakim adalah residensi kedua yang diadakan Ruang MES 56 di ruang yang sekarang ditempatinya, sekaligus seniman Australia kedua yang beresidensi di Ruang MES 56. Yang sangat perlu untuk dicatat dari proyek residensi Dani, adalah kemauannya untuk “keluar dari zona nyaman”. Sudah barang tentu, berkaitan dengan zona nyaman ataupun pilihan Dani untuk membuat zine secara kolaboratif, memang sangatlah terbuka untuk berbagai pertanyaan dan diskusi lebih lanjut, akan tetapi, mungkin akan lebih baik jika kita melihat tumpukan zine-zine fotokopian Dani bukan semata-mata sebagai suatu “produk jadi”, melainkan lebih sebagai prosesnya untuk bereksperimen.

 

Danielle Hakim (b. 1990), is an artist from Melbourne, Australia who has been an artist in- residence at Ruang MES 56 since Desember 2012. This is the first time she has visited Indonesia and also her first experience to take an artist residency program. During her time at MES 56, besides holding a workshop about zine making, she also initiated a collaborative work/ project, using the same medium of presentation with nine people from different backgrounds: visual artist, writer/ researcher, tattoo artist, jeweler, and designer.

Zine, which is an abbreviation of fanzine, is the most common term to describe a (very) limited self-published and/ or self-distributed media, which is usually reproduced by photocopier. For most people, zine might be always associated with sub-culture movements, anarchism, and everything else beyond mainstream. As a format or content-wise, there is no such thing as “formal” in zine. Everything is possible, one can collect poems and short stories about love and travel, write articles about the productivity of procrastination, talk about religion and atheism, collage with supernatural newspaper and teenage magazines, make DIY instructions for decorating homes, take photos from different countries and contrast the similarities, modify crosswords or publish recipes which the creators have not even had a chance to cook.

What Dani did during her residency period at MES 56 is far from her previous works or art practice. Maybe it is one thing that we can call “getting out of the comfort zone,” an important phase in an artistic process or experience for an artist. But it is not an easy thing to do, especially if it also involves or using “collaboration” as the keyword. For some people or artists, perhaps it would requires extra tolerance and patience, also in particular conditions it implies various meanings and contradictory natures: full of surprises, challenges, or simply infuriating. That is the nature of collaboration, and therefore doing a collaborative work, which can be defined as “working together on a horizontal level” with nine people whom eight of them she has just known for only a few months, is not something easy at all.

This residency program is the second one held by MES 56 in its new space, and Danielle Hakim is the second Australian artist whom undertakes a residency at Ruang MES 56. One thing that we should note from Dani’s residency project is her desire to “get out of her comfort zone.” Of course in relation to the comfort zone and her choice to produce zines collaboratively is very open for further questions and discussion, but however, it might be better if we saw piles of Dani’s photocopied zines not merely as “finished products” but rather as her process of experimentation.

Agung Nugroho Widhi
Ruang MES 56