Oleh Arlingga Hari Nugroho

“Ongkos Trans Papua”, 2021 (dok. Vembri Waluyas)


“Saya ini mau dia sekolah.”
“Pah, baru kenapa harus [sekolah]? Sekolah jauh.”
“Ah, kami su tidak ada tanah. Lalu dia sekolah tidak [benar] ini, gimana nanti dia pu hidup? Ya dia harus berhasil dengan sekolahnya.”

Begitulah Vembri Waluyas mencoba menceritakan kembali obrolan singkat dirinya dengan Tadius Butipo (30), seorang bapak dari suku Auyu di Kabupaten Merauke. Vembri Waluyas, seorang fotografer lepas kelahiran Sumatera yang tumbuh di Yogyakarta, dikenal sebagai seniman fotografi yang tekun mengabadikan cerita-cerita di Papua.

Dalam pagelaran Biennale Jogja XVI Equator #6 2021 di Jogja National Museum, Vembri Waluyas menampilkan seri karya “Ongkos Trans Papua”. Sebelas karya fotografi yang dicetak di atas plywood ini menghadirkan beragam cerita yang dibingkai dalam satu tema: persoalan lokal sepanjang pembangunan Trans-Papua.

Jurnal 56 beruntung mendapatkan kesempatan berbincang tentang fotografi dan mendengar kisah Papua dari Vembri Waluyas.

Vembri Waluyas “Ongkos Trans Papua”, 2021 (dok. Fransisco Edwardo Kamisopa)

 

Bagaimana ceritanya karya “Ongkos Trans Papua” terlibat dalam Biennale Jogja XVI Equator #6?

Tanya dong [ke] biennale (tertawa). Aku itu gak tahu soal open call. Tahu-tahu dikontak aja sih, mereka bilang ini dari biennale. Aku kan ngerti juga biennale.

Mereka bilang kami sedang menyiapkan [pameran] ini, bisa gak kami…kamu mau gak terlibat? Karena mereka bilang ada beberapa cerita yang aku bikin itu, menurut mbak Elia, menampilkan kisah Papua yang orang belum banyak tahu. Habis itu kontak-kontakan.

Aku sempat bertanya, “Apakah ada duit produksi?”. Memang pas diawal itu ditawari. Bayanganku sih kalau produksi ya karya yang sudah ada saja, wegah nek (gak mau) disuruh buat baru. Aku mikirnya kan budgetnya, nyetak juga. Ternyata gak harus bikin baru.

Jadi begitu akhirnya. Aku mengajukan dua seri ceritaku. Terus sebenarnya konteksnya sama tapi itu cerita yang terpisah. Konteksnya sama tentang Trans-Papua.

Mengapa memilih menampilkan isu Trans-Papua?

Mereka sebenarnya minta karya yang lain, tapi aku bilang jangan dulu. Apa ya, maksudku jangan sekarang karena situasinya sedang gak pas.

Jadi sebenarnya gini, isu-isu yang pada akhirnya aku minati dan aku kerjakan itu kan isu-isu yang sebenernya hampir tidak pernah muncul di publik, termasuk subjeknya; orang-orang Papua. Mereka [dan] kisah-kisahnya, pengalaman hidupnya, hampir tidak pernah muncul di perhatian publik.

Nah kenapa Trans-Papua, dia sering muncul dibicarakan dalam konteks itu lah: bagaimana kemudian pemerintah atau negara berupaya untuk menjawab persoalan-persoalan di Papua. Salah satunya kemiskinan, harga-harga mahal, keterisolasian antar wilayah. Nah itu [Trans-Papua] dibuat untuk menjawab persoalan-persoalan itu. Dari zaman baheula ini problem sebenernya.

Kita gak pernah tahu bagaimana proses negosiasinya dengan komunitas lokal, persoalan lokal kayak apa, nah aku mencoba mencari itu sih, mengumpulkan kisah-kisah itu.

Terus [cerita] lainnya itu, ketika mereka berbicara tentang jalan itu upaya untuk menyejahterakan, yang kudengar dari kisah-kisah itu ya sepanjang jalan Trans-Papua yang dibikin itu, justru yang bermunculan itu industri-industri sawit. Hutan ditebangi dalam skala yang besar. Dan taktislah, ketika hutan hilang, ya orang Papua kehilangan sumber pangan. Karena sumber pangan mereka satu-satunya kan dari hutan.

Vembri Waluyas “Ongkos Trans Papua”, 2021 (dok. Biennale Jogja XVI)

 

Bagaimana cerita tentang foto yang menunjukkan gambar burung?

Itu ketika aku berkunjung ke Boven, ada dua kisah yang aku temui dengan pola yang sama. Mereka cerita tentang burung yang mereka lihat, burung yang semacam kesulitan untuk mencari tempat istirahat. Kita jadi bisa ngebayangain seberapa luas hutan yang sudah dibongkar. Ada yang bilang, “Kita lihat ni burung ini sekarang macam kita gampang sekali tangkap dia. Dia ini, bingung tidak ada pohon untuk dia berhenti”.

Sebenernya orang Papua ini kan punya konsep tentang di posisi yang setara antara pohon, manusia, binatang, dan sebagainya. Jadi sebenarnya bagaimana lanskap ini berubah itu gak cuma manungsa tok (manusia saja), tapi juga banyak [yang berubah]. Selain manuk (burung), aku juga menemukan selalu ular [mati] ketemu ning dalan (di jalan). Memang ini kan kayak ketika lanskap itu berubah ya semesta mereka berubah; pengetahuan mereka. Karena hutan sebenernya itu bank pengetahuan mereka. Itu hilang, ya selesai.

Dengan segala hal yang terjadi, bagaimana kondisi masyarakat Papua saat ini?

[Menurutku] sebenernya orang-orang Papua sekarang dalam fase frustasi. Ya frustasi karena kekerasan dan hal lainnya. Tapi juga bagaimana kemudian intervensi modernisasi ini sedemikian deras masuk ke sana dan ini mengubah segalanya, selain cara berpikir tapi juga keseharian mereka, kenampakan alam mereka.

Vembri Waluyas “Ongkos Trans Papua”, 2021 (dok. Fransisco Edwardo Kamisopa)

 

Dari seri karya “Ongkos Trans Papua”, frame mana yang paling berkesan?

Itu satu seri sih sebenernya. Mmm… Sebenernya semua posisinya hampir setara ya, tapi memang pasti ada kisah-kisahnya. Misalnya seperti [foto] bapak sama anak itu, aku jarang sebenernya mengambil potrait mengusulkan pose itu, gak. Aku ngikut saja. Biasanya kalau memotret aku perlihatkan ke dia, itu satu hal yang kemudian aku meyakinkan, “Aku tidak mempermalukanmu”, atau tidak mau menunjukkan kamu ini sebagai konteks yang kamu enggan.

Bagaimana pengalaman menjadi fotografer di Papua?

Ada banyak sekali hambatan [dengan lokal] selain konteks trauma politik. Mereka ini gak suka kamera, foto itu gak suka. Terutama di mana tempat-tempat yang pernah ada [kasus] kekerasan, seperti Biak, kalau pesisir masih mending, kalau yang agak ketat itu pegunungan. Karena bagi mereka, fotografi itu bahaya.

Ada beberapa pengalaman seperti mereka difoto lalu beberapa hari kemudian ditangkap. Atau konteks yang lain, itu kaitannya dengan proposal atau ambil data. Jadi orang-orang [luar] ambil foto, terus [orang lokal] gak tau, mereka bilang ambil data. Bagi orang Papua, “Konteks ambil foto itu hanya untuk mereka sendiri, kita gak dapat apa-apa”. Hal-hal seperti ini yang sering kali aku harus meyakinkan mereka, “Aku mengumpulkan cerita”.

Sudah berapa tempat yang dikunjungi selama di Papua?

Di sana itu kan kalau wilayah Papua dan Papua Barat ada 42 kabupaten, ini yang belum ada pemekaran lagi ya. Aku mungkin sudah mengunjungi 30 kabupaten.

Vembri Waluyas “Ongkos Trans Papua”, 2021 (dok. Fransisco Edwardo Kamisopa)

 

Dibanding kerja kepenulisan, seberapa penting medium foto mengabarkan cerita ke publik?

Sebenarnya menurutku setara. Foto ini kan sebenernya sangat personal, artinya kita kerjakan sendiri itu bisa. Sama halnya dengan menulis. Karena juga platform hari ini memungkinkan untuk isu-isu Papua ini lebih diakses publik dan foto itu kan alat sehari-hari sekarang.

Kenapa konteksnya visual? Aku mencoba menghadirkan cara kerja mataku sebagai praktik kebudayaan.

Papua yang ini pun versiku, maksudku ini pengalaman personalku melihat Papua. Ketika ada orang lain yang berbeda ya gak apa. Kan aku sebenarnya lewat fotografi ini cuma ngumpulin saja, aku gak membuat.

Apa definisi foto yang baik?

Kalau berbicara estetika, ya ada beberapa hal yang mendasar misalnya kaitannya dengan komposisi kah, lalu colouring, tapi kan itu sebenarnya kayak cuma caranya.

Tapi kalau aku sih, ini untuk apa, ini tentang apa.