Studio seniman dan penulis partisipan program Gallery At Work dibuka untuk umum mulai besok Jumat, 7 Agustus hingga Sabtu, 8 Agusuts 2015. Silahkan berkunjung untuk bertemu dan ngobrol dengan para partisipan tentang proyek yang sedang mereka kerjakan. Selain itu ada 2 seri diskusi bersama Wahyudin:

Diskusi #1
“Perupa & Tindakan”
Bersumber buku Sarah Thornton, 33 Artists in 3 Acts
Jumat, 7 Agustus 2015, 16.00-18.00 (tepat waktu)

Diskusi #1

“Nilai Open Studio”

Bersumber buku Jean Baudrillard, Simulation dan buku Boris Groys, On the New

Sabtu, 8 Agustus 2015, 16.00-18.00 (tepat waktu)

Wahyudin adalah penulis, kurator dan kritikus seni yang turut berpartisipasi di program Gallery At Work. Di akhir program ini Ia membuat seri diskusi yang membahas tentang program studio seniman dan ‘open studio’. Berikut ini pemaparannya mengenai seri diskusi tersebut:

Project saya adalah sebuah peristiwa-percakapan-peristiwa di antara dan/atau bersama perupa untuk masuk-menemu makna kesenirupaan dan kesenirupawan kiwari dalam perlintasan karya seni (artwork) dan seni berkarya (art work) sebagai pertukaran budaya-inovatif (cultural-innovative exchange) di atas falsafah, pinjam istilah orang Manado, “baku beking pande” (saling mendukung supaya menjadi pandai).

Nunung Prasetyo secara intensif meneruskan seri foto portrait pemain sepakbola yang berjudul “Club Supporter”. Berikut ini deskripsi proyek yang ia tuliskan:
Saya adalah supporter fanatik sepakbola dan dekat secara personal dengan beberapa pemain klub sepakbola dan supporter fanatik lainnya di beberapa kota Indonesia.

Selain sebagai supporter saya adalah seorang fotografer yang kerap kali mendokumentasikan perkembangan klub idola saya beserta aktifitasnya.
Melihat perkembangan sepakbola Indonesia sekarang ,banyak pemain yang berganti profesi untuk melangsungkan hidupnya. Dari persoalan tersebut saya membuat seri potrait mereka.

Selain itu saya juga mengumpulkan dokumentasi, artefak dan memorabilia yang berhubungan dengan persepakbolaan Indonesia. Dalam open studio ini Ia menggelar turnamen game Winning Eleven yang digelar malam ini dan besok mulai jam 18.00. Bagi yang tertarik untuk bertanding, silahkan datang ke Ruang MES 56.

Di program Gallery At Work ini, Anang Saptoto mengeksplorasi ketertarikannya pada distorsi proyeksi benda dan bagaimana kita melihatnya dalam sudut pandang tertentu. Berikut ini deskripsi proyek yang ia tuliskan:

Ini adalah upaya pencatatan kembali tentang suatu gesekan2, perbedaan pendapat/pandangan/cara berfikir yang terjadi dari masa ke masa di negara ini, tak terkecuali dalam konteks seni, bahkan antar pelakunya.

Kali ini saya berhenti di era Mooi Indie – Persagi. Saya tertarik melihat bagaimana Persagi/ Sudjojono dalam hal ini menolak dengan tegas estetika dari karya-karya Hindia Molek. Meskipun kita tahu bahwa beberapa anggota Persagi juga membuat karya yg menampilkan kemolekan Nusantara.

Beberapa arsip yang saya temukan saya olah ke dalam karya-karya dengan pendekatan perspektif proyeksi (Anamorphic). Praktik ini saya lakukan untuk melakukan pengalaman dalam melihat gambar/ dokumentasi yang di olah sedemikian rupa.

Seperti sejarah itu sendiri, bisa terdistorsi Dan pada saat yang sama menjadi sangat jelas, tergantung pada Cara pandang Yang melihatnya.

Rangga Purbaya sedang mengerjakan proyek fotografinya yang berjudul “Stories Left Untold”. Berikut ini deskripsi proyek yang dituliskannya:

Pada proyek ini saya akan membuat penelitian mengenai kakek saya, Boentardjo Amaroen Kartowinoto. Sosok yang tak pernah saya kenal kecuali hanya lewat foto dan cerita ayah saya. Baru setelah tahun 1998 saya mengetahui jika beliau adalah salah satu korban tahun 1965, hilang setelah ditangkap pada tanggal 10 November 1965. Saya berusahamencari informasi tentang beliau melalui arsip, foto dan dokumen keluarga yang masih terselamatkan serta melakukan wawancara dengan orang-orang yang pernah mengenal beliau semasa hidupnya.

Cerita tentang kakek saya ini cukup samar bagi kami cucu-cucunya, karena mungkin tidak semua dari orang tua kami menceritakan tentang peristiwa hilangnya beliau secara terbuka. Hidup dibawah tekanan rezim orde baru membuat keluarga korban 65 harus menyembunyikan sejarah keluarga mereka sedemikian rapat baik dari anak-anak mereka sendiri maupun masyarakat di sekitarnya. Bahkan di era reformasi seperti sekarang beberapa keluarga masih merasa harus menyembunyikan sejarahnya bahkan dari anak-anak mereka, sebagai generasi yang lahir paska 65 dan tumbuh di era orde baru saya hanya ingin mengetahui siapa Boentardjo Amaroen Kartowinoto.

Di akhir penelitian saya akan mempresentasikan hasil penelitian dalam bentuk foto dan print hasil scan artefak yang saya temukan.