— Anang Saptoto (Direktur Agensi 56)

Tulisan ini merupakan rangkaian dari seri tulisan #20MES56, perayaan 20 tahun Ruang MES 56 yang diselenggarakan sepanjang tahun 2022.

28 Februari 2022.

Akhirnya kami masih diberi kesempatan yang sangat berharga; menapaki umur 20 tahun dengan keadaan sehat dan penuh semangat. Kami tidak pernah membayangkan keadaan dunia jadi seperti ini. Tentu saja ini bukan persoalan sederhana, sebab pandemi hampir menutup ruang sosial menjadi serba terbatas. Bahkan hanya untuk membuka pintu galeri, berulang kali kami harus memutar kepala untuk mengendalikan mobilitas publik demi menikmati gelaran karya di ruang kami. 

Ini bukan perkara bertahan untuk hidup semata. Lebih dari hal itu, kami berusaha untuk terus menghidupi gagasan dan praktik yang sudah kami jalankan 2 dekade ini. Menyiasati segala keterbatasan, kami merancang unit usaha yang kami jalankan sendiri sebagai bentuk kemandirian dalam keberlangsungan hidup bersama. Kami menyebutnya Agensi 56.

Agensi 56, sebuah unit usaha milik Ruang MES 56 yang diresmikan pada 28 Februari 2020. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, kami bekerja sama dengan 11 pihak sepanjang 2021 dalam konteks kerja komersial. Kami mengerjakan lebih dari 18 pesanan dengan tingkat kesulitan yang belum pernah kami bayangkan sebelumnya. Tawaran-tawaran itu seringkali datang dari pemerintah, LSM, periklanan, galeri seni komersial, komunitas, dan seniman individu. Kami cukup tercengang, hasil kerja unit usaha ini mencapai angka pemasukan sebesar Rp400.000.000 sepanjang 2021. Ini prestasi luar biasa dalam ranah kolektif seni rupa kontemporer. 

Agensi 56 memiliki 3 studio yang dirancang dan dijalankan oleh anggota kolektif Ruang MES 56. Di antaranya terdapat studio foto, studio video, dan studio audio. Tiga aspek dasar medium ini sebelumnya hanya kami gunakan sebatas bereksperimen dalam wacana dan proses produksi karya seni kolektif. Namun sejak 2020, kami meyakini bahwa apa yang kami kerjakan sebelumnya merupakan salah satu modal besar untuk menjadikannya sebagai layanan dalam unit usaha ini. 

Dalam hal relasi selama 20 tahun, kami sadar tidak sedikit kami berhubungan dengan pemerintah, museum, galeri, kurator, peneliti, warga, dan praktisi seni budaya, baik secara komunitas maupun individu. Begitu pula kerja sama dalam lingkup nasional maupun internasional. Dalam bentangan layar, kami ingin mengembangkan dan berbagi sistem informasi kepada jaringan atas kerja-kerja kreatif dalam Agensi 56. Kami membayangkan ini dapat hadir sebagai bentuk promosi dan edukasi melalui e-newsletter yang akan kami distribusikan setiap 3 bulan sekali.

Kembali ke ranah studio kami, tawaran kerja yang kami tangani banyak bersinggungan dengan tema sosial, seperti kerja kami dalam “Sistem Informasi Desa bekerja (SID)” bekerja sama dengan Combine Resource Institution (CRI) Yogyakarta; layanan “Potret Keluarga” bekerja sama dengan Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Bank Difabel; produksi Ruang 18; “Museum Diorama Sejarah Kota Yogyakarta” di Museum Kearsipan bersama Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (DPAD) Yogyakarta; pengarsipan dan aktivasi kegiatan dari sumber arsip seniman Heri Dono bekerjasama dengan Sri Sasanti Gallery dan Studio Kalahan; dan masih banyak lagi kerja sama yang lainnya. 

Behind the scene film “The Enigma of HeDonism” (2020)

Praktik kerja ini melibatkan individu generasi muda yang bekerja dalam Agensi 56. Selain memiliki passion yang sama, generasi muda ini juga memiliki kemampuan yang mumpuni. Kami merasa usaha yang kami jalankan tidak hanya menghidupi Ruang MES 56 sebagai organisasi, tetapi Agensi 56 juga belajar untuk menghidupi anggota kolektif, meski belum sepenuhnya. 

Tanpa disadari, unit usaha Agensi 56 telah menjelma menjadi komitmen yang menuntun Ruang MES 56 menuju konsep kemandirian kolektif. Kami selalu berusaha mengedepankan kualitas pekerjaan. Bukan hanya dalam hal teknis, tetapi juga dalam hal pengembangan gagasan dan kreativitas. 

Di waktu yang bersamaan, Agensi 56 mencoba membuat suatu rumusan perhitungan yang kami sebut kalkulator bisnis. Kami mencoba menghitung atas dasar kepantasan dan kesadaran penuh untuk saling menghidupi antara kebutuhan individu dan organisasi. Sehingga kami kira, kerja kreatif dalam unit usaha kolektif ini dapat menjadi sarana belajar, kerja profesional, dan kemandirian untuk memperpanjang nafas kolektivisme. 

Kami percaya, kolektivisme adalah salah satu cara atau strategi untuk berkembang bersama. Sebab di dalamnya terdapat kemerdekaan untuk berpendapat dan mewujudkannya melalui kerja-kerja kolektivisme. Visi-misi mulia ini tentu saja tidak gratis dalam proses menjalankannya. Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Begitulah kami menjawab tantangan kolektivisme dalam 20 tahun Ruang MES 56 ini. Di era new normal ini, tak ada pilihan selain bekerja sama, kolaborasi, dan bersolidaritas. Saling memajukan satu sama lain. Aku ada karena kamu ada, begitupun sebaliknya.

Foto sampul: Digitalisasi arsip Melani Setiawan