Yogyakarta dan Thailand memiliki kesamaan khususnya pada struktur sosial-politik-budayanya, sebagai sebuah masyarakat yang berada pada kondisi ‘di antara’ (in between), di antara warisan sistem monarki dan demokrasi, di antara tatanan masyarakat feodal- tradisional dan masyarakat modern-demokratis, di antara praktek kebudayaan tradisi dan budaya populer-industri, di antara masyarakat yang masih memelihara sistem kepercayaan dan praktek-praktek kebudayaan yang mistis dan praktek-praktek yang rasional. Dalam konteks Yogyakarta, manifestasi dari kondisi ‘di antara’ ini dapat kita lihat pada pencampuran dan bagaimana simbol- simbol itu secara bersama-sama hadir dalam lanskap kota Yogyakarta dan cara hidup masyarakatnya.

Karya kolektif MES 56 yang menggunakan pendekatan kolaboratif dan multidisiplin; bahasa, sastra, musik, video, fotografi, dan performatif ini berusaha untuk menjadi pemicu bagi kesadaran kita dengan mempertanyakan kembali unsur-unsur kebudayaan dan sistem kepercayaan yang dipraktekkan masyarakat. Titik berangkat yang dipilih adalah pada beberapa kesamaan yang dimiliki dua masyarakat ini (Yogyakarta dan Thailand).

Yogyakarta and Thailand have similarities especially in the socio-political-cultural structure, as a society that is in an “in-between” condition, between the legacy of the monarchy and democratic system, between the order of the feudal-traditional society and the modern-democratic society, among traditional cultural practices and industrial-popular culture, among people who still maintain rational belief systems and practices. In the context of Yogyakarta, we can see the manifestation of the condition of “in-between” in mixing and how these symbols are jointly present in the landscape of the city of Yogyakarta and the way of life of its people.

The collective work of MES 56 which uses a collaborative and multidisciplinary approach; language, literature, music, video, photography, and performative are trying to be a trigger for our awareness by re-questioning the cultural elements and belief systems practised by the community. The chosen starting point is the similarity of the two communities (Yogyakarta and Thailand).