Dalam rangka Dies Natalis XXVIII ISI Yogyakarta menggelar karya karya fotografi dengan tema “Membangun Peradaban Manusia Masa Kini Melalui Pendidikan Seni”. Pemeran ini merupakan upaya untuk menunjukan bahwa seni bisa menjadi salah satu wujud pendidikan kepada masyarakat dan kriktik atas peradaban masa kini pun dapat “dikoreksi” melalui medium ini. Kali ini Ruang MES 56 membuat sebuah proyek dengan mempresentasikan dokumen fotografi dalam bentuk buku, baik proyek-proyek pribadi atau dokumentasi dari aktivitas program-program Ruang MES 56. Selain memilih berdasar tema-tema tertentu atau kegiatan-kegiatan yang kami anggap memiliki momen penting dalam perjalanan karir Ruang MES 56, seperti Keren dan Beken (2003), Fotogram (2004), 2nd POSE (2008-2009), Tak Pernah Jera (Party) (2012). Dalam tatanan masyarakat di Indonesia, sebenarnya tradisi penataan fotografi dalam bentuk buku sudah di praktikan sampai saat ini. Menata foto dalam bentuk buku, memilah dan menyusun tata letak lazim dan populer dilakukan. Seiring berkembangnya teknologi, kelaziman ini mulai berubah bentuk dan cara. Era digitalisasi merubah data fisik menjadi non-fisik. Meski keduanya memiliki peran masing-masing sebagai wujud perkembangan yang niscaya, namun pelan tapi pasti data-data fotografi mulai menjadi ada namun tak bisa diraba. Dari situ kemudian muncul ide bagaimana memediasi konsepsi perkembangan pengarsipan fotografi digital dengan tradisi pengalbuman fotografi secara fisik. Bagaimana sebuah album foto atau buku foto dapat menjadi lorong waktu untuk melihat kembali sejarah perjalanan kami, sekecil apapun, kami rangkum dalam tatanan buku fotografi yang kurang lebih berjumlah lebih dari 20 buku. Memperpanjang umur sebuah dokumen foto adalah upaya membuka lorong ingatan, pengalaman, sejarah gelap yang mungkin hilang ditelan rimba komponen hard-drive puluhan terabyte. Kami menganggap langkah kecil ini adalah upaya pembongkaran dan penyusunan sejarah kami sendiri. Semoga menjadi pintar 🙂