Applied Theory adalah program workshop dari Ruang MES 56 yang fokus pada aplikasi teori, metode, gagasan dan pemikiran kritis pada keterampilan teknik seni. Dalam upaya menghadapi masa pandemi coronavirus, program ini kembali hadir dalam format Back-to-Back Online Classes. Dalam seri kelas ini, MES 56 akan membuka tiga kelas, yaitu:

Portfolio Review Fotografi Kontemporer bersama Angki Purbandono
22 & 23 Juni 2020 | 15.00 – 17.00 WIB (3 peserta per hari)
IDR 150.000 dan terbatas untuk 6 peserta

Angki Purbandono adalah seniman yang yang secara terus menerus mendorong batas penggunaan medium fotografi dalam berbagai ekpresi dan proyek seni. Ia adalah salah satu pendiri MES 56 dan PAPs (Prison Art Programs), program seni penjara di Yogyakarta.

Angki telah berpartisipasi dalam berbagai kegiatan seni nasional maupun internasional. Selain berpraktik sebagai seniman, ia juga kerap berperan sebagai kurator tamu dalam beberapa pameran seperti Bangkok Photo Festival 2018, Legal Artist Series (MES 56), dan beberapa program lainnya.

Portfolio Review ini akan mengajak siapapun untuk lebih dalam mengenal dan memahami projek-projek yang telah dibuat sebagai upaya pengembangan dan strategi dalam menciptakan karya seni berbasis fotografi melalui perspektif Angki Purbandono.

Strategi kreatif seperti apa yang tepat untuk mengolah pengalaman, isu tertentu yang telah kalian pikirkan bahkan yang sudah kalian rancang untuk menjadi sebuah karya seni? Portfolio Review ini mencoba untuk membedah bagaimana mempertajam gagasan dan menilik pentingnya pendalaman ideologi berkarya dalam penciptaan sebuah karya yang telah dilakukan oleh kawan-kawan semua.

Penciptaan dan Pengelolaan Pameran untuk Seniman dan Kurator Muda bersama Akiq AW
24 Juni 2020 | 15.00 – 17.00 WIB
IDR 100.000 per sesi dan terbuka untuk 10 orang

Akiq AW seniman visual, dan merupakan board-member dari MES 56. Karya-karya Akiq kerap menginvestigasi taktik hidup keseharian, dan isu-isu sosial menggunakan medium fotografi, dan video.

Karya-karya Akiq telah dipamerkan di beberapa pameran di Centre for Contemporary Photography Melbourne, Art Dubai, 38th EVA International Ireland’s Biennale 2018 dan Dak’Art: The Biennale of Contemporary African Art, dan beberapa lainnya. Selain menjadi seniman, ia juga kerap berperan sebagai kurator tamu dalam beberapa pameran, seperti The Sweet and Sour Story of Sugar (kolaborasi dengan Noorderlicht Photo Festival), Festival Arsip (bersama Indonesian Visual Art Archive, Jogja Biennale, dan beberapa lainnya.

Kelas ini akan mengajak partisipan untuk mengenal dan memahami proses penciptaan pameran dari perspektif seniman dan/atau kurator yang ingin membangun narasi sebuah pameran. Persiapan apa saja yang dibutuhkan oleh seorang seniman dalam membangun narasi pameran tunggalnya? Strategi kreatif apa yang tepat digunakan oleh kurator untuk mengembangkan sebuah tema pameran? Posisi dan sikap politis seperti apa yang perlu hadir dalam sebuah pameran?

Kelas ini mencoba untuk mempertajam gagasan sebuah pameran dan melihat pameran sebagai praktik artistik serta ruang penciptaan bagi seniman maupun kurator.

Membedah Praktik Berjejaring dan Residensi bersama Wok The Rock
25 Juni 2020 | 15.00 –17.00 WIB
IDR 100.000 per sesi dan terbuka untuk 10 orang

Kelas ini mengajak partisipan untuk mengenal dan memahami program residensi seniman sebagai praktik berkesenian lintas budaya dan geografis sekaligus sebagai upaya dalam pengembangan jaringan. Persiapan apa saja yang dibutuhkan dalam menghadapi kondisi yang serba berbeda? Strategi kreatif apa yang tepat digunakan di kancah seni yang lebih mapan atau yang baru berkembang? Posisi dan sikap politis seperti apa yang sesuai saat membangun jaringan?

Sesi ini mencoba untuk menepis pemikiran pragmatis atas residensi sebagai program jalan-jalan gratis ke luar negeri dan penunjang karir ekonomi semata.

Wok The Rock adalah seniman yang aktif di bidang seni rupa, desain dan musik. Ia merupakan salah satu pendiri Ruang MES 56, kolektif seni yang mengeksplorasi praktik fotografi lintas-disiplin yang berbasis di Yogyakarta dan label musik Yes No Wave Music.

Wok sering menggarap proyek-proyek seni lintas-disiplin yang melibatkan beragam komunitas. Banyak di antaranya dikerjakan saat menjalani residensi di Open Archives (Australia), Koganecho Bazaar (Jepang), Casco Art Institute (Belanda), dan Delfina Foundation (Inggris). Ia juga berperan sebagai kurator untuk Biennale Jogja XIII 2015 dan Nusasonic, sebuah festival musik eksperimental Eropa dan Asia Tenggara.

Biaya:
IDR 100.000/sesi dan terbatas untuk 10 peserta.
Khusus sesi portfolio review IDR 150.000 dan terbatas untuk 6 peserta.

Paket Sesi lengkap: Rp. 300.000.

Pendaftaran dibuka 12 – 20 Juni 2020 (batas akhir pukul 17.00 WIB)
Kontak: Isal (0821-3837-3763)