The Wax on Our Fingers/Malam Di Jari Kita

poster-mintio

Malam Di Jari Kita/The Wax on Our Fingers
April -7 May 2012
Pembukaan: 7 April
Pukul: 19:00 WIB
Tempat: iCAN (Indonesia Contemporary Art Network)
Alamat: Jl Suryodiningratan 39 Yogyakarta 55141

Malam Di Jari Kita/The Wax on Our Fingers Adalah proyek senirupa berbasis hubungan sosial yang merayakan kehidupan dan tangan-tangan terampil dibalik eksistensi Batik. Mintio & Kabul bekerja sama dengan para pembatik dari desa Kebon Indah, Bayat, Klaten untuk menciptakan ‘potret diri’ yang unik, yang menggabungkan realisme fotografi dengan sifat dekoratif dan simbolis motif Batik. Perpaduan dari fotografi dan Batik ini adalah hasil dari proses perjalanan seni bersama para perempuan pembatik. Setiap kali kami melihat kain Batik, muncul pertanyaan siapa dan bagaimana kehidupan dibalik eksistensi Batik yang merupakan produk budaya kebanggaan Indonesia sebagai intengible heritage. Daerah Bayat khususnya desa Kebon Klaten, sejak lama dikenal sebagai pusat pembuatan Batik tulis di wilayah yang dulu disebut wilayah Keraton atau Vorstenlanden, yakni wilayah yang meliputi kerajaan Solo dan Yogyakarta. Produk Batik dari wilayah ini adalah Batik Klasik, ditandai oleh warna dan motif yang khas dari wilayah Vorstenlanden, yakni warn coklat alami yang cenderung coklat (soga), dan biru (Indigo) dan motif Batik Kraton seperti motif Parang dan Wahyun Temurun. Secara umum masih sangat terbatas pengetahuan orang Indonesia tentang kain yang bermotif batik dan Batik sendiri. Rumitnya proses pembuatan Batik tulis dan siapa orang yang berpeluh dibalik proses pembuatannya adalah para pembatik yang kebanyakan perempuan. Seniman Mintio & Kabul menggunakan pendekatan yang lebih segar untuk proyek ini, potret para pembatik dicetak diatas kain dengan teknik cyanotype (Cetak Matahari), para wanita pembatik kemudian merespon citra diri mereka sendiri dengan menggambarkan motif batik yang diinginkannya. ìDalam kolabarasi ini hanya pembatik, yang biasanya tak memiliki jejak dalam kain, menjadi yang utama. Sekali lagi, bagi saya ini merupakan statement tegas akan eksistensi pembatik. Foto ibu pembatik dan anaknya, pembatik lintas generasi, Berfoto bersama dan muncul di kain. Mintio dan Kabul memberi ruang eksistensi pada para pembatik untuk hadir dalam karya mereka sendiri, sesuatu yang mungkin tidak pernah mereka bayangkan sepanjang perjalanan hidup sebagai pembatik. tulisan Amalinda Savirani. Melalui proyek ini seniman mengakui peran penting perempuan sebgai pencipta budaya dalam masyarakat indonesia dan menjelajahi hubungan mereka dengan keluarga, masyarakat desa, dan kerajinan yang mereka buat.

http://www.malamdijarikita.com 

Program ini bekerja sama dengan

Ruang MES 56 dan iCAN (Indonesia Contemporary Art Network)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>