2nd 3Point Awards: Landscape

Poster-2nd3point

Lanskap

Sapardi Djoko Damono

 

Sepasang burung, jalur-jalur kawat, langit semakin tua

waktu hampir lengkap, menunggu senja

putih, kita pun putih memandangnya setia

sampai habis semua senja

 

(1967)

 

Realitas di Atas Tanah

 

 

1.

Pengetahuan lanskap pada umumnya adalah pemandangan dari bentangan-bentangan tanah, sebagai estetika yang menarik secara visual, sebuah gambaran yang membentang dari sebuah pedesaan atau ini justru mengarah pada genre lukisan pemandangan. Hampir selama beberapa dekade terakhir, lanskap menjadi subjek bagi fotografi kontemporer, secara spesifik ada konfrontasi antara lanskap yang sebenarnya dengan yang tidak nyata1 Pameran New Topographic tahun 1975 di International Museum of Photography, George Eastman House adalah sebuah titik balik dalam sejarah fotografi, pameran ini menandai pergeseran radikal jauh dari penggambaran tradisional lanskap. Pameran ini menandai munculnya pendekatan baru untuk menggambarkan hubungan manusia dengan lanskap, yang pada akhirnya menjadi sebuah gerakan dan gaya baru dengan nama yang sama dengan pameran tersebut.

 

Dengan Subtitle “Photographs of a Man-Altered Landscape” mereka menggambarkan topografi biasa yang merupakan refleksi dari dunia sub-urban disekitar mereka, dan reaksi terhadap tirani fotografi lanskap ideal yang mengangkat alam dan elemental. Dengan caranya, mereka memotret melawan tradisi fotografi alam seperti Ansel Adams dan Edward Weston2

 

Bagi kebanyakan orang, praktek lanskap fotografi di Indonesia pada khususnya, langsung merujuk kepada praktek fotografer salon yang menangkap citraan sebuah gunung, pohon kelapa atau sawah seperti dalam lukisan Mooi Indie, mengutip Sudjojono atas apa yang terjadi pada lukisan standar tentang visualisasi alam, pada fotografi rujukan ini nampaknya masih berlaku, kita bisa melihat para pelaku fotografi lanskap masih memberlakukan “panduan lanskap” yaitu pemandangan indah dari air, laut, gunung, bahkan kota dengan lanskap sebagai bagian dominan dari sebuah foto dan penegasan tentang penggunaan cahaya terbaik pada setiap cuaca3

 

Pertanyaan yang dilemparkan pada 3point kali ini adalah “what landscaping can do?” bagaimana sebuah landscape bisa mempresenatasikan bukan hanya sebuah bentangan alam melainkan representasi fotografer tentang gaya dan pendekatan untuk menginterpretasi gagasan bentuk-bentuk lanskap untuk kemudian menawarkan adanya kemungkinan beragam dalam pengalaman visual dan persepsi tentang lingkungan alami dan buatan.

 

Sebagai tawaran lain atas panduan lanskap tersebut, pameran ini mencoba melakukan pemahaman dan masuknya unsur-unsur lain. Intervensi atas lanskap, sebuah tafsiran fotografi lanskap yang meluas. Gambaran awal fotografi lanskap Indonesia akan langsung mengacu pada praktek foto salon yang hanya mengabadikan keindahan alam dan cahaya keemasan dari scenery tertentu. Seiring dengan perkembangan, tentu saja banyak fotografer yang mengeksplor gagasan lain tentang pemandangan alam, para fotografer selalu mencoba mendefinisikan ulang apa fotografi lanskap dengan mencari tempat-tempat lain yang tidak melulu pemandangan indah atau bahkan memasukkan lingkungan yang dibangun dalam bingkai mereka; seperti kota, respon atas lingkungan sekitar, bahkan rekonstruksi digital.

 

Paul Kadarisman dan Akiq AW adalah segelintir yang mencoba gagasan baru untuk mengekplorasi lanskap. Dalam karya “Wish You Were Here” Paul Kadarisman memotret kota jakarta saat ditinggal oleh warganya saat libut Lebaran, disini Paul menceritakan kota Jakarta yang kita kenal menjadi sepi dan nyaris tanpa kehadiran kendaraan dan manusia yang biasa berada di dalammnya. Akiq AW dengan pamerannya “To the landscape and Beyond” mengeksplorasi tanda-tanda visual di berbagai ruang melalui bentuk dan fungsi antara alam dan benda-benda disekitarnya berinteraksi satu sama lain sehingga gambaran lanskap yang terekam membingkai ruang baru yang menurutnya disorder.

 

Kini, ketiga peserta ini mengajukan visi personalnya akan lanskap dengan tidak hanya mempresentasikan bentangan tanah, namun menyatakan gagasan lain atasnya, investigasi personal kedalam kehidupan dan pengalaman. Pada awal proses, persentasi dan diskusi adalah cara untuk memahami motivasi yang mendorong mereka berkarya. Lebih jelasnya 3point kali ini mengajak kita untuk kembai berpikir kritis terhadap lanskap natural yang bukan gambaran indah namun juga terhadapa realitas sebenarnya tentang lingkungan.

 

 

2.

Bentangan alam “selera bule” di Bali yang mengkritisi alih fungsi lahan hijau menjadi lahan komersil, kepemilikan properti dan privatisasai lahan. Sebuah tanah yang indah dan terisolasi dengan pemandangan yang menjanjikan bisa menarik untuk diperjualbelikan, keindahan alam dan pengembangan pariwisata yang tak terhindarkan di Bali. Vivick menangkap bentang alam tersebut dengan potret alam tempat kita hidup dengan mempertanyakan pribumi yang tidak lagi memiliki lahannya, juga mengkritikritisi adanya giuran perputaran uang dengan idiom pariwisata semua boleh termasuk dengan merusak ekosistem alam; menemukan surga dunia lewat pengembangan real estate dan perusahaan investasi properti.

 

Di Our New Land, elemen buatan diwakili oleh rumah burung khas Bali yang dianggap sebagai villa, cottage, hotel sedang berdiri di tanah-tanah yang nampak menjanjikan untuk dibangun sebuah tempat tinggal, tampak sebuah gambaran eksotis pemandangan alam Bali. Rumah burung adalah metafor sebagai petunjuk properti komersial yang membantu memahami gagasan lanskap, sebagai tempat akomodasi dan isu komodifikasi pariwisata – di mana agendanya adalah menciptakan tempat tinggal yang serba mewah, alami dan eksotis dengan menyajikan pemandangan indah sebagai tempat rekreasi-relaksasi. Vivick menata rumah-rumah burung yang ditempatkan di lanskap-lanskap yang berlokasi di Danau Tamblingan di Singaraja, tebing di Pantai Pendawa atau Kutuh dan Pantai Geger di Nusa Dua yang memang adalah tempat-tempat laris untuk ditawarkan kepada calon investor.

 

Pada dasarnya lanskap berifat natural, manusia bekerja sebagai pelaku perusakan alam. Metafora juga disini bekerja dengan cara yang light, Vivick seolah-olah menawarkan pemandangan indah dengan komposisi dan warna menarik dan menata rumah-rumah burung dengan baik, namun dibalik itu timbul keresahan akan ekosistem, apakah pemahaman kita tentang lingkungan hanya terbatas pada visual yang indah tanpa memperhatikan keseimbangan alam?

 

Sebuah studi reflektif bentang alam Bali yang mengalami proses pembangunan pariwisata dan kepentingan lain.

 

 

 

3.

Tumbuhan yang terpojok di sudut-sudut tembok, terhimpit oleh ruang. Seri Plants In Between mengangkat perebutan ruang antara nature dan culture. Bey mencari lokasi dimana persinggungan tumbuhan dan peradaban kota bersaing untuk mendapatkan habitatnya masing-masing, dengan membingkai fasad lingkungan urban yang menciptakan ruang baru yang seakan “menolak” ruang tumbuhan di lanskap hijau. Mengeksplorasi fungsi konstruksi sebagai ekspresi dari ambisi manusia membangun kotanya, dengan menggabungkan srangkaian tumbuhan yang hidup secara natural di dalam kota modern.

 

Tidak ada yang meragukan bahwa eksploitasi manusia terhadap alam berkontribusi dengan perkembangan kebudayaan. Culture atau budaya berjalan seiring dengan berkembangnya hubungan kita dengan nature (alam). Kolonisasi manusia mengakibatkan berubahnya lanskap, hubungan manusia dan lanskap dimana mereka tinggal saling mempengaruhi satu sama lain. Culture yang sifatnya berkembang, aktif, manifestasi dari pencapaian inteluktual manusia kontras dengan alam yang pasif, produk diam dari bumi seperti tumbuhan, hewan, pemandangan, dan fitur lainnya, sebagai lawan dari manusia atau kreasi manusia.

 

Seri ini dipicu oleh keinginan untuk menafsirkan fenomena alam-budaya dalam lanskap buatan manusia, kemudian menemukan bahwa ada dari potongan lanskap alami, yaitu tumbuhan masih ada dan akan tetap menjadi bagian yang tak terhindarkan karena sifat-sifat alaminya. Gambar-gambar ini memperlihatkan potret kehadiran lanskap natural yang mencoba bertahan diantara produk buatan manusia.

 

 

4.

 

Slogan Barbara Kruger “I shop therefore I am” dalam seri Flight of The Red Plastic, digunakan Asrul sebagai titik awal mempertanyakan permasalahan konsumtif dan makna ada yang diperjelas dengan “ada-di-dunia” tanah yang kita pijak sebenarnya. Asrul menggunakan bahan umum seperti kantung plastik sisa belanja yang ia susun dengan membuatnya seakan-akan beterbangan, plastik-plastik merah berpose abstrak di mana penonton hampir tidak dapat merasakan apakah itu memang benar diarahkan atau memang mereka secara natural mengambang di udara. Dengan meninggalkannya pada komposisi terbuka, kemungkinan jawaban akan tersisa saat kita meninggalkan dan kembali berpikir tentang pose-pose tersebut.

 

Asrul -yang bekerja dan tinggal di kota metropolitan- kemudian mengarahkan sebuah intervensi atas lanskap. Sebuah pose komposisi acak dan peluang pertanyaan secara visual tentang arahan. Cara yang mengarahkan diferensiasi pose dari material sebagai yang melengkapi versus ruang dari yang dilengkapi, sebuah lanskap tipikal perkotaan dengan latar belakang gedung-gedung.

 

Secara tradisional kita asumsikan bahwa plastik adalah material yang identik dengan belanja, tanah disulap menjadi pusat perbelanjaan yang memproduksi banyak sampah plastik sebagai bentuk suplai maraknya prilaku konsumtif, belum lagi berbicara masalah dampak lingkungan yang akan terjadi dengan pola ini. Gambaranya adalah intervensi plastik memperjelas cara pandang di mana kita banyak menghabiskan sifat konsumtif di bumi. Tentu saja tanpa bertanya banyak lanskap bagi Asrul diartikan mentah sebagai bumi dan intervensi plastik belanjaan sebagai elemen vital yang menggangunya, dia hinggap diatas tanah perkotaan tanpa memandang siapa-membeli-apa adalah sebuah pendekatan untuk memahami bagaimana manusia berelasi dengan tanahnya.

 

 

5.

 

Apa itu lanskap? Gagasan dengan pencapian spesifik apa dan bagaiamana menyusunnya untuk mempresentasikan seri foto tersebut? bagaimana cara mengungkapkan lanskap dengan foto sebagai alat untuk berbicara atau belajar “sesuatu”?

 

Lanskap fotografi kontemporer merefleksikan keadaan masyarakatnya dan bisa menjadi metafor atau bahkan gambaran realitas. Eksplorasinya bisa memasukan genre lain dan lebih luas menyatakan hubungan manusia melaui paparan dan menajamkan persepsi kesadaran dengan menangkap realitas perkembangan di sekitarnya (surrounding).

 

Memotret lanskap adalah lebih dari sekedar menampilkan hasrat sederhana untuk merekam bukti visual yang nampak indah, melainkan tentang mempertanyakan isu manusia yang berhubungan dengan industri, konsumersime dan masalah lingkungan. Eksplorasi ini ditandai dengan tiga elemen; kesadaran atas lingkungan sekitar,  penggunaan simbol dan ironi untuk menajamkan persepsi dan kesadaran untuk menangkap realitas sebenarnya yang terjadi di atas tanah.

 

Ini adalah cara pandang mereka atas pertanyaan pribadi yang mendasar atas apa yang terjadi dengan lingkungan terdekat mereka, semuanya dipengaruhi oleh apa yang dilihat dan dirasakan. Memahami pertanyaan mereka adalah dengan mencoba berinteraksi dengan foto-foto pada pameran ini, bentangan alam yang disajikan dengan metafor dan sedikit kerancuan. Dalam gambaran mereka lanskap dipahami sebagai topik, yang kemudian berkembang menjadi lanskap yang berbaur dengan isu-isu personal.

 

 

 

1. Ulrich Pohlman, katalog Fluffy Clouds Jurgen Nefzger, Hatje Cantz Verlag, 2010

2. http://www.guardian.co.uk/artanddesign/2010/feb/08/new-topographics-photographs-american-landscapes

3. Persyaratan Lomba THE INDONESIA SALON of ART PHOTOGRAPHY (ISAP) ke 2 – 2012, http://isap.candranaya.com/conditions.php, 2012