Blog

Cinema Caravan

Cinema Caravan

“PLAY with The Earth”

Selasa, 9 Juni 2015

19.30 wib – selesai

Film, Dance, Performance, DJ, Instalasi Photo dan Melukis

Ruang MES 56, Jl. Mangkuyudan no 53A, Yogyakarta

Cinema Caravan adalah bioskop keliling yang mendasarkan kegiatannya pada konsep bisa “bermain dengan bumi” dengan panca indera – kadang-kadang diadakan di tepi pantai yang senyap, kadang-kadang di tengah sawah, di sebuah bukit, di atas reruntuhan bangunan bersejarah, atau diadakan di tengah denyut kesibukan kota.
Merangsang indera dapat membawa sebuah perjalanan ke sisi yang lebih dalam, dan membuat kemanusiaan seseorang bertumbuh. Saat membentangkan layar untuk menonton (film) di alam bebas dalam pelukan lanskap yang berbeda dari perjalanan kami sebelumnya, kami menciptakan panggung untuk pengalaman yang berbeda di tempat yang biasa saja.

Dan dalam proses ini, kami belajar dari orang-orang yang kami temui di jalan, tentang kebijakan mereka tentang bagaimana hidup, dan pengalaman budaya mereka yang beragam.
Menghubungkan kota ke kota, orang-orang, dan dengan menciptakan kesamaan di mana kita dapat bertukar dengan bebas, kami berusaha untuk menjadi kendaraan yang membawa kita lebih dekat dengan gerakan hidup – sehingga akhirnya kita bisa menghubungkan titik-titik dalam perjalanan kita.

Seniman: Rai Shizuno, Mikey, Michinori Maru, Eikou Haraguchi, Kuririn

 

Cinema Caravan is a mobile cinema based on the concept of being able to “play with the earth” with the five senses – set sometimes by a quiet bayside, sometimes in the middle of a rice field, on a hill, on the expended ruins of a place etched in history, or otherwise set in the middle of a pulsing city.

Stimulating the senses can make the journeys deeper, and makes one’s humanity more profound. Unfurling a screen for outdoor viewing in the different landscapes of our journey, we set the stage of non-routine experience in an everyday place.

And in the process, we learn from those we meet on the road their wisdom on how to live, and experience their varied cultures.

Connecting city to city, people to people, and by creating a common ground where we can exchange freely, we seek to be a vehicle that brings us closer to the movement of life – so that eventually we can connect the dots in our journey.

Artists: Rai Shizuno, Mikey, Michinori Maru, Eikou Haraguchi, Kuririn

Category News

FULLHOUSE

FULL HOUSE

Sebuah Pameran Galang Dana | A Fund Raising Exhibition

Seniman | Artist

Akiq AW, Agan Harahap, Angki Purbandono, Edwin ‘Dolly’ Roseno, Jimbo Allen Abel, J Bujangan Urban, Yaya Sung, Wimo Ambala Bayang, Wok The Rock, Yudha ‘Fehung’ Kusuma Putera, Yusuf Ismail, Yannick Cormier

Pembukaan | Opening :

Kamis, 4 Juni 2015, 19.30 WIB

Thursday, 4 June 2015, 7.30 pm

Pameran | Exhibition:

5 – 21 June 2015

Tempat | Venue:

Ruang MES 56

Jl. Mangkuyudan no 53A, Yogyakarta

Ruang MES 56 adalah lembaga berbadan hukum sebagai yayasan yang hidup dengan nafas kolektif sejak tahun 2002. Ruang MES 56 selalu berdiri pada dasar ilmu fotografi sebagai mediumnya yang kemudian selalu mengembangkan ide-ide kreatifnya bekerja dengan mencampurkan disiplin ilmu lain seperti; video, music, performance, antropologi, kedokteran, lukis, seni grafis, animasi atau apa saja untuk mendapatkan pengalaman dan daya tarik yang segar dalam mengolah fotografi sebagai sebuah konsep pada setiap masanya.

Ruang MES 56 juga tidak sungkan berubah sebagai rumah, untuk berkumpul sebagai ruang rekreasi bagi anggota MES-mesboys dan juga keluarganya. Memberikan nafas untuk ruang yang dibangun selama ini ternyata mudah! Tapi untuk mencukupi kebutuhan hidupnya yang tidak mudah!

Tahun 2015 adalah tahun ke-13 MES 56 sudah menggali dan menanam  apa yang dikuasainya di area fotografi; komersial, jurnalistik, desain, etnofotografi dan kontemporer. Tidak ada yang pernah disembunyikan dalam setiap proses hidup di antara anggota MES 56, mulai dari pelaksanaan program sampai urusan rumah,

secara keuangan kolektif anggota dan hasil dari kerjasama dengan beberapa lembaga seni lokal dan asing.

Tidak pernah sedetikpun persoalan-persoalan lembaga terlupakan, karena ini bukan mimpi. Banyak kesalahan jadi guru besar mesboys dalam membentuk garis baru melintang,membujur untuk strategi pemikiran ke depannya.

Hidup dan bekerja di Ruang MES 56 rasanya seperti duduk melingkar di meja poker, saling berhadapan tapi dengan kartu saling terbuka untuk bijak memberi kesempatan kepada yang lain menikmati kemenangan, kemenangan yang memberikan keseimbangan antara kawan, lawan dalam satu ruang tanpa harus ditutup-tutupi.

Ruang MES 56 memang bukan pemenang, kita hanya ingin punya kartu yang baik untuk selalu bisa melawan hidup.

 

MES 56 is a legal entities, a foundation with a collective spirit since 2002. MES 56 has been consistently using photography as a medium combined and developed with creative ideas to work with other disciplines such as video, music, performance, anthropology, medicine, painting, graphic arts, animation or anything to acquire experience and a fresh appeal in the process of photography as a concept at times.

MES 56 did not hesitate to become a home, to come together as a recreation room for MES-mesboys members and their families. Keeping the spirit of the space is surprisingly easy! But to make ends meet is not easy!

2015 is the 13th year of MES 56, we dug up and planted what we mastered in the area of ​​photography; commercial, journalistic, design, ethno-photography and contemporary. Nothing is hidden in the process of life among the members of the MES 56, either program implementation or home affairs, collective members financial state and the results of cooperation with several local and foreign art institutions

Not a split second that we forget about the institutional problems, since this is not a dream. Many mistakes become mesboys’ great teacher in forming a new transversal–longitudinal lines to the thought of future strategies.

Living and working with MES 56, is like sitting in a circle at a poker table, facing each other but with each cards open, wisely giving others the opportunity to enjoy the victory, a victory that provides balance between friends, opponents in mutual space without having to cover-up.

MES 56 is not a winner, we just want to have a good card to always fight in life.

Category Exhibition

IDEAS ARE LIKE FISH – Yannick Cormier

 

“Di balik setiap gambar, sesuatu menghilang”

Jean Baudrillard

Oleh: Yannick Cormier

Berawal dari emosi dan keterpukauan saya, yang dipicu oleh foto-foto yang saya temui. Karya fotografi ini ingin mengangkat mereka yang terlupakan dari perekonomian India yang menakjubkan. Berbagai komunitas mencoba mempertahankan ritual dan tradisi di tengah lingkungan yang di dalamnya terdapat revolusi ekonomi dengan globalisasi yang mengubah wajah bangsa secara cepat. Saya ingin menyaksikan sendiri tradisi dan asal muasal suatu bangsa, dengan cara yang estetis dan peka. Bersamaan dengan itu pula, sebuah perjalanan ke pulau Jawa, ke Yogyakarta, di Indonesia tempat terjadinya pertemuan-pertemuan unik telah mengantarkan saya pada tema; penggalan tak terpisahkan.

Proyek fotografi ini, yang kemudian menjadi obsesi sesungguhnya, diilhami dari pengalaman, perjumpaan dan kegiatan membaca saya, dsb. Proyek ini banyak berkembang seiring berjalannya waktu. Secara bersamaan, sebagai persona, saya juga berkembang berkat proyek ini dan membuat saya menemukan hal yang baru. Benar-benar ada pergulatan yang nyata antara praktik dan siapa saya sebagai persona.

Metode yang saya pakai sekarang adalah fotografi jurnalistik, yang tidak bisa menghindari investigasi dan realitas. Sebaliknya, saya memiliki kebebasan penuh mengenai lamanya waktu pengambilan obyek, interpretasi atas apa yang saya lihat dan pemilihan foto-foto. Pada akhirnya, hanya ide dan representasi yang diperhitungkan. Pentingnya dokumen adalah esensi dan menentukan dalam setiap proyek saya: dari kecermatan dokumentasi ini akan lahir, atau tidak, puisi.

 

“Ide itu bagaikan ikan”

oleh Jean-Pascal Elbaz

« Ide itu bagaikan ikan. Jika kamu ingin menangkap ikan kecil, kamu bisa berada di air dangkal. Tapi jika kamu ingin menangkap ikan besar, kamu harus pergi lebih dalam. Jauh di bawah kedalaman, ikan itu lebih kuat dan lebih suci. Mereka itu luar biasa besar dan abstrak.

Dan mereka sangat indah. »

―David Lynch, Catching the Big Fish: Meditation, Consciousness, and Creativity

Pada Januari 2014, Yannick Cormier, Fotografer yang tinggal di India sejak lebih dari 10 tahun, kembali lagi selama 3 minggu di kota Yogyakarta, Indonesia, yang sudah pernah dikunjunginya 2 tahun sebelumnya. Dari pagi hingga malam yang gelap, menyusuri kota di segala penjuru, Yannick Cormier tak henti–hentinya menangkap esensi dengan kamera berwarna peraknya, kesan yang ia rasakan tentang kota ini, masyarakatnya, kejadian yang sedikit banyak terlihat melingkupinya.

Dari kunjungan ke sanggar seniman hingga perjalanan di desa lereng gunung Merapi yang subur namun berbahaya, ia mengembara di reruntuhan candi-candi Hindu atau di gang yang remang-remang di ibukota budaya Jawa, matanya selalu mencari sesuatu.

Fotografer ini mempunyai pandangan yang tajam dan  hanya mengambil  sedikit gambar yang klise mengenai suatu hal. Akurat, tegas, cekatan dan setia dengan maestro fotografer dan pelukis besar yang menginspirasinya, setiap gambarnya dikomposisi dengan teliti, terukir oleh cahaya, merangkai sebuah dialog yang penuh rasa hormat dan empati dengan subjeknya.

Potret kota dalam bentuk montase yang ditampilkan sungguh sangat jauh dari apa yang mungkin kita harapkan. Yannick Cormier ingin turun lebih dalam ke pelosok kota, merangkai percakapan dengan masyarakatnya, dan memunculkan ke khalayak sebuah potret yang mencengangkan, tidak biasa dan mengagumkan.

Yannick Cormier langsung merasakan sebuah sensualitas yang besar di Jogja yang berusaha ia ungkapkan melalui pose yang simpel dan meyakinkan  dari modelnya yang menghadap lensa atau sentuhan sinar matahari pagi pada pemandangan sawah. Ia melukis galeri dengan potret-potret yang menggetarkan, remaja muslim berjilbab dan bercahaya yang berhadapan dengan pelacur remaja dari sebuah daerah miskin.

Selalu terpesona dengan topeng, pekerjaan yang tak henti-hentinya ia lakukan di India, Jawa juga menawarkannya baik topeng tradisional dari tari di Kraton, atau topeng-topeng di desa yang aneh maupun topeng-topeng yang ditemukannya secara tidak sengaja di simpang-siurnya jalan saat perjumpaan nokturnal… dan hingga sampai pada penyamaran dan tato.

Dibesarkan di lingkungan multikultural, karya fotografi Yannick Cormier terikat dengan asalnya di Prancis, lalu di India, untuk mendokumentasikan mereka yang tidak diperhitungkan dalam masyarakat yang menghadapi modernisasi: kasta rendah, kaum gipsi, transgender. Di Jogjakarta ia juga mengumpulkan potret para “tak terlihat” dengan latar lukisan perkotaan kontra-budaya: masyarakat kecil di sepanjang pinggir kali, tukang becak, dan juga anggota asosiasi yang bekerja dengan kaum transeksual…

Potret kota yang disajikan oleh Yannick Cormier membuka mata kita pada sebuah realitas lain yang tercipta dari bayangan dan cahaya, dari topeng dan realitas, tercampur dengan kreasi agung ritme dan komposisi, keindahan dan kesuraman, permukaan dan kedalaman.

__

“Behind every image something disappears”

Jean Baudrillard

By Yannick Cormier

 

First and foremost, there is emotion and fascination that is exercised on me by my encounters with these images. This body of photographic work takes interest in those forgotten by the Indian economic miracle. Of diverse indigenous communities, they are trying to ensure survival and continuity of their rites and traditions in the midst of an economic revolution and globalization that is rapidly changing the face of this nation. I seek to testify in an aesthetic and sensitive manner, the tradition and genesis of a country. In addition to this, is an escapade to the Indonesian island of Java at Jogjakarta where singular encounters brought me back to my subject, indivisible fragments.

This photography project, that has become a real obsession, feeds of my experiences my encounters, readings etc. It has evolved a lot with time. In parallel, as a person, I have constructed myself thanks to this project and what it has made me discover. There is a true emulation between my practice and who I am as a person.

Today, my method is that of a photographer journalist for whom investigation and reality cannot be circumvented. However, my freedom is total with regards to the duration of the shoot, the interpretation of what I see and selection of my photographs. In the end, only the idea and it’s representation count. The importance of the document is  essential and decisive in every one of my projects: of this documentary rigour, shall be born, or not, poetry.

 

“Ideas are like fish”

 by Jean-Pascal Elbaz

“Ideas are like fish. If you want to catch little fish, you can stay in the shallow water. But if you want to catch the big fish, you’ve got to go

deeper. Down deep, the fish are more powerful and more pure. They’re huge and abstract. And they’re very beautiful.”

―David Lynch, Catching the Big Fish: Meditation, Consciousness, and Creativity

In January 2014, Yannick Cormier, photographer living in India since more than 10 years, came back to spend 3 weeks in the city of Jogjakarta in Indonesia, a city he had already discovered 2 years ago. From early morning to dark night, crisscrossing the city in all directions, Yannick

Cormier was incessant in capturing the essence with his analog camera, the impressions he felt about the subject of this city, it’s habitants and currents more or less visible that compose the same.

From visits to artist workshops to promenades in villages perched on fertile but dangerous slopes of the Merapi volcano, he wandered inside the ruins of Hindu temples or dark streets of the cultural capital of Java, sharp eyed in permanence.

This photographer with a sharp look captures in his camera, very few number of shots on a subject. Precise, rigourous, rapid and loyal to the great masters of photography and paintings that inspire him, each of his images is carefully composed at the instant, sculpted with light,

engaging a dialogue full of respect and empathy with his subjects.

The portrait of this city that he offers us in the form of a collage is far from images that we could have expected. Yannick Cormier wished to descend to the deepest depths of the city, engage in conversation with those who people it and bring to the surface a portrait that is surprising, unusual and fascinating.

Yannick Cormier immediately felt in Jogjakarta, a great sensuality that he has strived to express through the simple and confident posture of a model in front of the camera or the tender caress of the morning sunshine on the large perspectives of rice farms. He paints a gallery of vibrant portraits of young veiled muslims and bright face to faces with young prostitutes of a working class neighbourhood.

Fascinated by masks since always, a work he pursues incessantly in India, Java offers him not only masks of traditional dances in the palace of the Sultan but also the grotesque of the villages or those found by hazard in the labyrinth of streets during his nocturnal encounters… and going on to disguises and tattoos.

Having grown up in a multicultural environment, the photographic works of Yannick Cormier is attached, from his origins in France, then in India, to documenting those who are often left out in societies that are on the way to modernization: untouchables, gypsies, transgenders.

Thus in Jogjakarta, he records portraits of the ‘invisibles’ against the backdrop of urban frescos of counter culture: little people of riverfront quarters, drivers of the pushcarts as well as members of associations who work with transsexuals.

The portrait of the city proposed by Yannick Cormier opens our eyes to another reality made from shadow and light, of masks and reality, mingling with great art, rhythm and composition, beauty and the obscure, the surface and depth.

Category Exhibition

Jalan Berjingkat

Presentasi Work in Progress

Proyek Seni

JALAN BERJINGKAT

Rute: Jogja – Banyuwangi

Antara Penduduk Asli, Kekuatan Gunung, Ingatan Kepindahan dan Kearifan Lingkungan.

Seniman

Arya Sukma Wardhani

Fitri Setyaningsih

Karina Roosvita Indirasari

Neri Novita

Waktu

Kamis, 21 Mei 2015

19.00 wib

Venue:

Ruang MES 56

Mangkuyudan 53A Yogyakarta

“Why do you go away? So that you can come back. So that you can see the place you came from with new eyes and extra colors. And the people there see you differently, too. Coming back to where you started is not the same as never leaving.” 
                                                                   ― Terry PratchettA Hat Full of Sky (Discworld, #32)

 

Ini adalah sebuah project tentang perjalanan. Perjalanan menjadi obsesi manusia sejak jaman dahulu kala, dengan berbagai latar belakangnya. Seratus ribu tahun yang lalu, homo erectus melakukan dari Afrika ke seluruh dunia. Tahun 1260 Marcopolo berkelana menjelajahi Eropa, Asia hingga Afrika. Kerajaan Mataram Hindu berjaya karena pengelanaannya akan Nusantara. Perjalanan adalah penjelajahan. Perjalanan adalah petualangan. Perjalanan membawa pertemuan. Perjalanan membawa kenangan.

Proyek Jalan Berjingkat merupakan project 4 seniman perempuan: Arya Sukma Wardhani, Fitri Setyaningsih, Karina Roosvita Indirasari, Neri Novita, yang berbasis di Yogyakarta, dengan latar belakang kesenian berbeda, yang ingin mengadakan perjalanan bersama, melakukan eksplorasi pengkaryaan selama perjalanan tersebut dan mempresentasikannya kembali di titik keberangkatan, Yogyakarta.

Diinisiasi oleh Fitri Setyaningsih, project ini diberi judul Jalan Berjingkat karena para seniman yang terlibat melihat project ini sebagai sebuah perjalanan yang harus dilakukan secara hati-hati dan perlahan, seperti jalan berjingkat, diam-diam, tanpa menimbulkan kegaduhan, tiba di tempat dengan selamat baru kemudian bersuka-cita, sebuah apresiasi yang akan diadakan untuk menghargai perjalanan ini sendiri.

Category News

Fluxcup – Spectaculum Frustra – Exhibition View

Fluxcup – Spectaculum Frustra
Curated by Yusuf Ismail
Exhibition:
15 – 30 Mei 2015

Artist Talk:

16.00 WIB

29 Mei 2015

Venue:

Ruang MES 56

Mangkuyudan 53A Yogyakarta

Buka tiap hari / Open daily

12.00 — 21.00

Hari Minggu & Senin tutup / Sunday & Monday closed

And

Fluxcup Channel on Youtube

Online: 19.00 WIB / 15 Mei 2015

Offline: 24.00 WIB /16 Juni 2015

Category Exhibition

Pembukaan Sakinah

Meski hujan seperti tumpah, tapi warga Mantrijeron dan kawan-kawan meluangkan waktu untuk hadir, sungguh salute atas dukungannya. Jangan lupa datang ke Sarasehan pada Senin 4 Mei 2015 jam 16.00 wib. Silakan mampir ke Ruang MES 56, galeri buka Selasa – Sabtu jam 12.00 – 21.00 wib.

Seniman / Artists:
Ruang MES 56 dan Komunitas Mantrijeron

Inisiator Proyek / Project Initiator : Jim Allen Abel

Tim Kerja / Team Work:
Fajar Riyanto, Gatari Surya, Nunung Prasetyo, Eri Rama Putra, Afil Wijaya, Angki Purbandono

Esai / Essay:
Arham Rahman

Pembukaan/ Opening :
Jumat, 24 April 2015, 19.30 WIB
Friday, 24 April 2015, 7.30 pm

Pameran / Exhibition:
25 April – 9 Mei 2015

Sarasehan / Discussion:
Senin, 4 Mei 2015, 16.00 WIB
Monday, 4 May 2015, 4 pm

Tempat / Venue:
Ruang MES 56
Jl. Mangkuyudan no 53A, Yogyakarta

“Sakinah” adalah proyek seni yang bertujuan melihat dan membaca praktik fotografi populer masyarakat khususnya masyarakat kampung Mantrijeron, kampung di mana Ruang MES 56 sekarang beraktivitas dan bertempat tinggal. Sudah menjadi hal jamak sebagai warga yang baru untuk membangun hubungan yang baik dan produktif dengan tetangga dan warga kampung sekitar.

Keterlibatan warga menjadi hal utama dalam proyek seni ini, untuk secara bersama-sama mengeksplorasi arsip-arsip foto yang mereka miliki, beserta ingatan-ingatan yang ada didalamnya. Tentang hubungan di dalam keluarga, hubungan sosial dengan tetangga dan lingkungan sekitar tempat tinggal kita. Proyek “Sakinah” ini diharapkan mampu menjadi jembatan yang baik dalam mengembangkan kerja seni dan budaya di kampung Mantrijeron.

“Sakinah” is an art project aimed to look closely and to read the popular photography practices in society, especially the Mantrijeron neighborhood, where MES 56 is currently located and create works and projects. It is very common approach for MES 56, as a new member or this society, to build up a good and yet productive relationship with the neighbors and neighborhood.

Participation of the neighbor is essential in this art project, to then mutually explore their photo archive and the memories contained in it. It is about the relationships in the families, social relationship with the neighbors, surroundings and neighborhood we live in. “Sakinah” project is to provide a solid bridge in developing work of art and culture in Kampung Mantrijeron.

 

Sakinah

 

–Arham Rahman

“Kneel down and pray, and you will believe you knelt down because of your belief

Slavoj Zizek

 

 

Apa batas dari ‘sakinah’ (ketenangan, ketentraman, kebahagiaan)? Sakinah boleh dilihat sebagai kondisi sebuah relasi yang dibayangkan ideal dalam institusi keluarga atau masyarakat. Sebagai konsep abstrak, lokus keyakinan terhadap sakinah–bahwa kita sudah sakinah–adalah ‘hukum masyarakat’. Saat berpartisipasi di dalamnya (hukum masyarakat dengan aneka ritusnya), kita digiring pada sesuatu yang asing, sensasi komunalisme; perasaan berada di tengah kerumunan yang punya aturan main dengan tawaran ‘pengalaman kesenangan’ tertentu. Hukum masyarakat selalu berusaha menyediakan makna perihal apa itu sakinah.

Dalam ritus sosial seperti perkawinan, selalu ada harapan pada pasangan pengantin agar menjadi ‘keluarga yang sakinah’. Namun, seperti apa bentuk sakinah yang dibayangkan itu? Bentuk sakinah yang sudah dikonstitusikan oleh masyarakat; punya anak, banyak rejeki, berkecukupan, terpandang di mata orang kebanyakan, menjadi bagian dari sebuah jaringan kekerabatan, etc. Dengan begitu, pernyataan “semoga menjadi keluarga sakinah” juga bisa berarti “semoga menjadi keluarga sakinah, seperti (sakinah) yang didambakan masyarakat”.

Meski demikian, setiap orang merespon sakinah dengan cara yang berbeda. Espektasi setiap orang serba-beragam, sehingga makna yang tersedia di dalam lingkungan sosial tertentu selalu gagal mengartikulasikan sakinah secara tepat. Segala sesuatu yang diandaikan sebagai ‘sakinah’ tidak pernah cukup dan menuntut untuk dicari terus menerus. Artinya, ia tidak pernah punya batas. Karena itu, saat direduksi menjadi objek–yang mengandaikan kepemilikan atas sesuatu–sakinah sekadar menyediakan kepuasan parsial.

Boleh jadi, sakinah hanya espektasi kosong, mimpi tentang sebuah kondisi keluarga atau masyarakat ideal yang tidak benar-benar bisa eksis. Atau ia hanya memori yang sudah mulai buluk dan diharapkan kehadirannya kembali meski mustahil. Dalam arti kata, sakinah adalah peristiwa ideal yang ‘hilang’. Ruang-ruang klangenan dalam masyarakat urban mungkin bisa dilihat sebagai upaya mencari kondisi yang sakinah. Begitu juga dalam ruang memori sebuah keluarga, dimana kondisi sakinah hanya bisa hadir sebagai jejak.

Bilamana sakinah itu demikian, –atau tidak ada sakinah yang ‘benar-benar sakinah’–apa pentingnya ia dipelihara sebagai mimpi dan diandaikan ada? Sakinah di sini musti hadir sebagai penunjang; memberi garansi bagi keluarga atau praktik hidup tertentu di dalam institusi masyarakat. Namun demikian, sakinah itu tidak transenden, tetapi kontingen (contingency). Di setiap masa, keluarga, lingkungan sosial atau apapun namanya, sakinah dibayangkan dengan cara berbeda, kondisional dan tidak pasti.

Dalam masyarakat Tenganan Pegringsingan-Karangasem, Bali misalnya, perkawinan endogami dibanyangkan sebagai bentuk ideal sebuah keluarga sekaligus menjadi ‘kancing pengikat’ (quilting point) bagi ikatan sosial masyarakat setempat. Begitu juga dengan sistem perkawinan antar-kerabat dalam masyarakat Bugis (Bug. “asseajingeng”; Eng. “take each other”) yang sangat didambakan dan diidealkan. Keduanya bukan sekadar taktik agar ‘warisan’ keluarga tidak lari kemana-mana, melainkan juga menjadi penanda bagi konsep sakinah.

Namun, tidak semua orang di kedua masyarakat itu takluk pada ‘makna sakinah’ yang tersedia. Tetap ada yang menikah dengan sistem eksogami atau tidak menikah dengan orang dari jaringan kekerabatannya. Mereka adalah ‘subjek-subjek nakal’ yang tidak memble pada rezim kebudayaannya, mencari bentuk ‘sakinah’ lain yang lebih menjanjikan. Bahkan boleh jadi, pilihan untuk bercerai atau tidak menikah sekalipun juga merupakan upaya mencari ‘sakinah’.

Category Exhibition

Connect With Known, Unknown, And Others Exhibition View

Category Exhibition

Ulang tahun MES 56 ke 13

Sabtu tanggal 28 Februari 2015 adalah hari ulang tahun ke 13 Mes 56, keluarga besar Mes 56 merayakannya bersama dengan semua teman dan handai taulan. Terima kasih untuk tahun-tahun lalu yang sudah kami lewati dengan penuh semangat dan pengharapan, dengan diiringi doa restu.

Category News

Put Up A Signal

Put Up A Signal  dimulai di tahun 2013 sebagai sebuah kolaborasi kuratorial antara tiga lembaga: Asialink, Bus Projects, dan Ruang MES 56. Pada awalnya, proyek ini bertolak dengan tujuan untuk mengekplorasi kesempatan untuk kolaborasi yang lebih kaya serta memungkinkan pertukaran dengan menggunakan platform digital dan internet. Judul yang diambil mengacu pada cara sekaligus strategi komunikasi yang terjadi tanpa harus bertatap muka, dan potensi-potensi kreatif yang muncul di dalamnya; mengirimkan sinyal dengan harapan bisa diterima dan dimengerti. Kali pertama, yang melibatkan sebuah pameran (dan juga penayangan) karya-karya video di Bus Projects dan Federation Square, Melbourne, Australia dan sebuah publikasi, menjadi sebuah model kerja atau kolaborasi yang berkembang dan tidak terpusat antara seniman-seniman dan lembaga-lembaga yang terlibat, namun mampu, serta diharapkan terus berkelanjutan.

Proyek Put Up A Signal berhubungan erat dengan kompleksitas dan fluiditas yang mengakui bahwa, dengan munculnya media-media sosial, game online multiplayer, streaming video dan musik , platform web yang aksesibel, piranti lunak editing yang murah, dan kemampuan untuk menyiarkan kombinasi informasi pribadi dan profesional secara global, adalah pekerjaan seniman untuk membuat ‘makanan’, dan kemudian ‘untuk dimakan’ oleh lingkungan ini. Sekarang pada tahun 2014, dengan dukungan dari Australia Council of the Arts dan melalui diskusi antara para kurator dan seniman, proyek ini dikembangkan dengan pendekatan dan lintasan yang berbeda untuk mencakup keragaman praktik dan pendekatan kepada teknologi media dan budaya digital/ online.
.
Kita tahu bahwa hubungan antara seni dan teknologi media telah terjadi, saling berkelindan serta mempengaruhi satu sama lain, dan teknologi media baru bukan hanya mempengaruhi, namun telah menghancurkan hampir seluruh batasan atas apa yang selama ini dianggap realitas, bahkan batasan-batasan seni (visual) itu sendiri. Pameran ini menampilkan karya-karya berbasis teknologi media, yang tidak hanya terbatas pada seni video dengan satu pendekatan serta kecenderungan tertentu, melainkan juga bentuk-bentuk (turunan) lain yang telah familiar bagi khalayak luas; fotografi, instalasi, performans site-specific maupun karya-karya berbasis online (online-based). Bukan hanya sebatas ragam mediumnya saja, namun bagaimana cara kita mengonsumsi, cara kita melihat gambar dalam kehidupan sehari-hari, bagaimana imaji-imaji visual itu disebarluaskan, ditransmisikan serta disajikan juga dieksplorasi dalam pameran ini. Para seniman yang berpartisipasi dalam Put Up A Signal adalah mereka yang memiliki perhatian terhadap isu-isu yang berkaitan, atau pertautan antara seni dengan teknologi media. Tidak saja berkaitan dengan bagaimana teknologi media dimanfaatkan dalam praktek berkeseniannya, tetapi lebih jauh menjadi tema yang dominan dalam karya-karya mereka. Tema-tema yang muncul dalam pameran ini secara garis besar adalah: 1) Bagaimana teknologi media membentuk perilaku dan pemahaman atas bagaimana manusia melihat ruang (fisik maupun sosial), sekaligus ekspektasi-ekspekatasi atas ruang-ruang tersebut; 2) Bagaimana pemahaman tentang diri dan sejarahnya itu menemukan bentuk dan idiom-idiom yang belum ada sebelumnya; 3) Pada akhirnya, bagaimana seniman mampu menemukan bentuk ungkap baru atas gagasan-gagasannya.

Satu hal terpenting yang kami jadikan pertimbangan kuratorial pameran ini adalah, bahwa melihat seni media (hari ini) dalam kerangka estetika saja, atau melihatnya hanya dari kerangka seni semata merupakan tindakan yang semena-mena atau bahkan ”cukup sombong”, jika kita menyadari bahwa temuan atau perkembangan medium ini bukanlah buah dari sejarah seni (art history) ataupun sinema. Put Up A Signal juga menelaah bagaimana medium ini digunakan atau prakteknya dalam ranah populer.

Mungkin pameran ini adalah sebuah momen yang tepat untuk kembali dan terus memikirkan definisi seni itu sendiri, mematangkan eksplorasi medium, serta mempertanyakan batasan dan konvensi-konvensi seni. Hal yang mendasar dalam pameran ini bukan hanya pada pencapaian artistik maupun terobosan-terobosan dalam penggunaan medium, namun juga pada ”fungsi dan posisi” seniman serta karya-karyanya. Keseimbangan dari semuanya.

Put Up A Signal  began in 2013 as a curatorial collaboration between three arts organizations: Asialink, Bus Projects, and Ruang MES 56. Originally, the project set out with the aim of exploring opportunities for richer collaboration so that exchange could be made possible through the internet and digital platforms. The title refers to a way and also strategies for communication that takes place without meeting in person, and the creative potential inherent in these attempts. We send out signals in the hopes that they are received and understood. This first iteration, which involved an exhibition and screening of video works at Bus Projects and Federation Square, Melbourne, Australia and a publication, established an evolving, decentralized model of collaboration between artists and organizations that has continued over the subsequent year.

Put Up A Signal project embraces this complexity and fluidity and acknowledges that, with the rise of social media, multiplayer online gaming, videos and music streaming, accessible web platforms, inexpensive editing software, and an ability to broadcast a combination of personal and professional information globally, the work that artists are making feeds, and is fed by this milieu. Now in 2014, with the support from Australia Council of the Arts and through a discussion between the curators and artists, the project has developed to different approach and trajectories to encompass a diverse range of practices and approaches to media technology, and digital/ online culture.

We know that the relationship between art and media technology have occurred, intertwined and affect each other, and new media technologies not only influence, but has destroyed almost the entire limits of what is considered as reality, even the boundaries of the (visual) art itself. This exhibition shows media technology-based works which is not only limited to video art as the approach and with a certain tendency, but also other (derivatives) forms which has been familiar; photography, installation, site-specific performance and online based works. Not only limited to the range of the medium, but how we consume, the way we see pictures in daily life, how those visual images are distributed, transmitted and presented are also be explored in this exhibition. The artists who participate in Put Up A Signal are those who focus on issues related, or a linkage between art and media technology. Not only with regard to how this technology is used their arts practice, but also a dominant theme in their works. The themes that emerge in this exhibition are: 1) How media technologies shapes the behavior and understanding of the way human see space (physic and social), as well as expectations on those spaces; 2) How does an understanding of the self and its history discovered forms and idioms that did not exist before; 3) Last but not least, how the artist able to reveal a new form of said top ideas.

One of the most important things that we made ​​into consideration for this exhibition curatorial is, that seeing media art (nowadays) in terms of its aesthetics only, or seeing it only from art perspective is an act of arbitrary and even ‘pretty arrogant’, if we realized that the discovery and development of media art is not a result of art history or cinema. Put Up A Signal also examines how this medium is used or its practice in the popular realm.

Perhaps this exhibition is an appropriate moment to go back and continue to think about the definition of art itself, maturing the exploration of the medium, as well as questioning the boundaries and conventions of art. The essential thing in this show is not only on the artistic achievements and breakthroughs in the use of the medium, but also on ‘function and position of’ the artists and their works. The balance of all.

 

Category Exhibition

Pembukaan Pameran Bend Sinister

Pembukaan pameran Bend Sinister oleh Adam de Boer dan Sinta Tantra

iCAN Galeri, Jalan Suryodiningratan no 39 Yogyakarta

Pameran berlangsung dari hari Senin – Sabtu pukul 09:00 – 17:00, 4 – 22 September 2014.

Category Exhibition