Blog

Cerita Sebuah Ruang — Menghidupi Ekspektasi: Membaca Fotografi Kontemporer Indonesia Melalui Praktik Ruang MES 56

Kisah ruang alternatif mirip dengan kisah hidup orang biasa. Sewaktu-waktu orang akan bosan dan butuh bersentuhan dengan gagasan-gagasan segar

 

08

Pada akhir 90an dan awal 2000an, di Yogyakarta bermunculan kelompok-kelompok anak muda yang mengelola kegiatan, terbitan dan ruang diskusi/pameran yang kala itu disebut dengan ruang alternatif. Dalam ranah seni rupa, kemunculan ruang alternatif ini menandai generasi baru seniman Indonesia yang memiliki kesadaran untuk tidak lagi melihat arus utama sebagai kiblat dan lebih memfokuskan diri pada bentuk-bentuk kesenian yang personal sekaligus memilih aktivisme sebagai jalan keluar.

Continue reading

Category News Tags

Jalan Raya Pos

Sampai dimana jejak sejarah kolonial masih tampak di negara Indonesia hari ini? Kalau keliling Jawa, sejarah itu sepertinya sudah digerus oleh waktu modern. Apakah sejarah itu memang hilang? Untuk mengambarkan bagaimana Indonesia menghadapi jejak sejarah kolonialnya, Eric bersepeda melewati jalan pertama di pulau Jawa: Jalan Raya Pos atau Jalan Daendels sepanjang 1000 kilometer yang menghubungkan Jawa Timur dan Barat yang dibangun oleh orang Belanda, Daendels di tahun 1808.

Jalan Raya Pos merupakan garis merah dalam proyeknya. Proyek fotografi dokumenter ini tentang semua yang terjadi di pinggir jalan kolonial tersebut, dan juga tentang siapa yang tinggal, bekerja, atau sekedar lewat saja. Kadang dengan cara lucu, kadang dengan cara serius, Eric mengeksplorasi bagaimana hidup biasa berkembang sepanjang jalur kolonial tersebut dan memperlihatkan bagaimana Indonesia menghadapi jejak sejarah ini.

Continue reading

Category Presentation

Diskusi Buku Seni, Apa Itu? Posisi Estetika dari Platon sampai Danto

Diskusi Buku
Seni, Apa Itu? Posisi Estetika dari Platon sampai Danto
Karya Michael Hauskeller
(Yogyakarta: Kanisius, 2015)

Pembicara: Wahyudin

Kamis, 1 Oktober 2015
Jam 15:00 – 18.00 WIB
Ruang MES 56
Jl. Mangkuyudan No. 53A, Yogyakarta

“Apa itu seni?” adalah pertanyaan sederhana, tapi belum sudah terjawab. Sejak zaman Yunani klasik, pada sebelum Masehi, hingga zaman posmodernisme di abad ke-21, para filsuf telah berikhtiar penuh seluruh menjawabnya. Tapi, jawaban mereka tak lebih dari percobaan intelektual sementara yang memperlihatkan kemustalihan menemukan jawaban tunggal atas pertanyaan tersebut.

Seturut buku Michael Hauskeller Seni, Apa Itu? Posisi Estetika dari Platon sampai Danto (Yogyakarta: Kanisius, 2015), evolusi pemikiran estetika berkembang dengan persetujuan dan penolakan, dengan sabur-limbur dan tambal-sulam, yang justru menunjukkan pentingnya posisi seni di alam pikiran filsafat. Itu juga yang meyakinkan penghayat filsafat bahwa “apa itu seni?” tak dapat diringkus-rampung dalam satu jawaban, pengertian, atau definisi.

Tapi itulah amal jariyah para filsuf bagi dunia filsafat dan seni yang pantas kita diskusikan. Siapa tahu kita dengan pretensi intelektual cupul terhibur dan tercerdaskan dalam sepeminuman kopi. Apalagi jika kita bisa menerapkan, merekayasa atau menambahinya dengan penuh daya cipta dalam berseni rupa.

Kontak:
Ris +62 818 260 134
mes56post@gmail.com

www.mes56.com

Category Discussion

“Jauh Dekat 2015: Kumpul Seni, Film, Musik, dan Makan”

“Jauh Dekat 2015: Kumpul Seni, Film, Musik, dan Makan”

15-16 September 2015
Pukul 15.00 – 20.00 WIB

di Ex-Pool Damri
Jalan Mangkuyudan 50A, Yogyakarta

Silahkan membawa beras sebagai tiket masuk.

Proyek Kaleidoskop 2015 mengundang anda untuk hadir pada acara Jauh Dekat 2015: Kumpul Seni, Film, Musik dan Makan. Acara ini merupakan bentuk eksperimen lanjutan dari para peserta Kaleidoskop 2015 mengenai penciptaan ruang bersama melalui berbagai bentuk praktik artistik. Dalam ruang bersama ini, setiap orang mendapatkan otonomi untuk berpikir dan bertindak, baik sebagai individu maupun secara kolektif. Penciptaan ruang bersama menemukan urgensi di wilayah Mantrijeron —bahkan di banyak wilayah lain— yang sarat dengan pemagaran untuk kepemilikan dan akumulasi keuntungan pribadi.

Penciptaan ruang bersama dalam acara Jauh Dekat 2015, diwujudkan dengan menggunakan bangunan kosong bekas pool dan kantor Perusahaan Umum Damri di Jalan Mangkuyudan. Bangunan kosong dan rongsokan bis milik Damri bersanding dengan pembangunan hotel yang semakin cepat di sekitarnya. Waktu seakan terhenti di area bangunan kosong ini. Namun bangunan ini tidak pernah benar-benar kosong. Masyarakat sekitar menghidupi ruang ini dengan berbagai mitos dan cerita hantu. Remaja datang silih berganti di sore hari untuk berfoto, berlatih membuat graffiti, atau sekedar nongkrong bersama teman. Bangunan kosong Damri berfungsi sebagai pusat kegiatan waktu luang bagi warga walaupun secara ilegal. Para seniman yang terlibat di Kaleidoskop 2015 melihat potensi praktik artistik sebagai metode untuk menyusun kepemilikan bersama atas ruang ini.

Jadwal:
Selasa, 15 September 2015
15.00 – 20.00 WIB: Lansia Band Kelurahan Mantrijeron, Begundal Clan, NOK37, Youth-youthan, Ruang Kelas SD, Love Hate Love, Muck dan Trash
Rabu, 16 September 2015
15.00 – 20.00 WIB: Masak, makan bersama dan pemutaran film Betty Bencong Slebor (1975)

Mari datang…

Category News

Alhamdullilah We Made It

In putting together the visual arts program for the OzAsia Festival, Artistic Director Joseph Mitchell has selected artists who represent a snapshot of contemporary visual art in Indonesia at this point in time.

The inclusion of MES 56 in the program shows the diversity of contemporary art in Indonesia.

“I like the way they turn some of the simple aspects of photography on its head in that it’s a collective rather than an individual taking the photograph,” says Mitchell.

MES 56 was established in the late 1990s, when a group of photography students at the Indonesian Institute of The Arts Yogyakarta, lived in a rented house that used to be a Mess for the Indonesian Air Force in Koleonel Sugiyono, street no 56. The artists were creating experimental works and with a lack of galleries to display them they decided to develop their own gallery and organistaion, Ruang MES 56.

Wimo Bayang, a member of MES 56, says: “Our mission is to develop contemporary art discourse and visual culture, while also optimising art networks in the South East Asia region through several programs and activities such as residencies, presentations, discussions and interdisciplinary art projects.”

In this new series Alhamdulillah, We Made It, commissioned for the OzAsia Festival, MES 56 draw on an earlier series Holiday Project-2004 where they asked people where they would go in Jakarta City and then through digital manipulation took them there. MES 56 has employed a similar idea in Alhamdulillah, We Made It but in this case they spent time with refugees staying in Yogyakarta asking them about where they are now and where they want to go.

“MES 56 are doing this experimental photographic exhibition where they superimpose the end point with the reality of where they are now and play around with the layers, the dreams of these people. It’s documentary photography about where they might be going mixed with where they are at,” says Mitchell.

The artworks draw on posters created by the Australian Government, which are displayed around Yogyakarta refusing refugees entry into Australia. “It gave us a good context and idea to work with since these refugees would want to come to Australia. So we wanted to realise it with digital manipulation,” Bayang says.

While MES 56 are dealing with a topic that’s political they are not trying to create political artworks but are instead approaching it from a perspective of who these people are.

“Through art we can learn that this issue is not only between Australia and Indonesia,” Bayang says. “It is a world problem, it’s a human problem. Artists cannot solve political problems or stop wars, only politicians can do that. Artists try to see and show the world that politicians are not able to see.”

MES 56: Alhamdulillah, We Made It
Artspace Gallery, Adelaide Festival Centre
Wednesday, September 9 to Sunday, October 4

adelaidefestivalcentre.com.au/ozasia-festival

Category Exhibition

Pameran Bersama: Sehat Walafiat

Pameran Bersama / Group Show
Sehat Walafiat

Seniman / Artists
Antonio S. Sinaga, Arum Tresnaningtyas Dayuputri, Meicy Sitorus, Muhammad Akbar, M.R. Adytama Pranada (Charda), Sandi Jaya Saputra, Tandia Bambang Permadi

Pameran / Exhibition
16 Agustus – 5 September 2015
August 16th – Sept 5th

Kurator / Curator
Chabib Duta Hapsoro

Wicara Seniman / Artist Talk
Sabtu, 15 Agustus 2015 pukul 16.00 – 18.00 WIB
Saturday, August 15th 2015, 4 – 6 pm

Pembukaan Pameran / Exhibition Opening
Sabtu, 15 Agustus 2015 pukul 19.30 WIB | Saturday, August 15th 2014, 7.30 pm

Pertunjukan Musik / Live gig
Tetangga Pak Gesang

Ruang MES 56
Jln. Mangkuyudan Nomor 53A, Yogyakarta 55141

Sehat Walafiat menampilkan karya beberapa seniman muda Bandung yang menjelajahi fotografi seni dalam sejumlah tema dan pokok-soal sekaligus memperlihatkan perbedaan latar belakang persentuhan dengan fotografi dalam karya-karya mereka.

Karya-karya fotografi seni dalam pameran ini mendayagunakan sekaligus mengkritik gagasan fotografi sebagai medium representasi kenyataan. Pendekatan-pendekatan para seniman muda ini juga mewakili dinamisnya medan seni rupa Bandung yang menantang untuk mereka, terutama saat berhubungan secara timbal-balik dengan praktik fotografi yang memilliki tradisi cukup panjang di kota ini.

Sehat Walafiat presents the work of some young Bandung-based artists, exploring the art of photography in some themes and ideas, at the same time showcasing the diversed background of their encounters with photography itself in their art practices.

Photography art works in this exhibition employ, at the same time criticize, the idea of using photography as the reality representation medium. The approaches of these young artists also represent the dynamic challenges of Bandung art scene towards them, especially in a reciprocate relation with the practice of photography, which actually had a long tradition in the city.

Menampilkan karya-karya: Antonio S. Sinaga, Arum Tresnaningtyas Dayuputri, Meicy Sitorus, Muhammad Akbar, M.R. Adytama Pranada (Charda), Sandi Jaya Saputra, Tandia Bambang Permadi
Sehat Walafiat menampilkan karya-karya beberapa seniman muda Bandung yang menjelajahi fotografi seni dalam sejumlah tema. Pameran ini juga merepresentasikan perbedaan latar belakang persentuhan mereka dengan fotografi, yang menandai pendekatan khas masing-masing saat menggunakan fotografi sebagai medium penyampai gagasan.

Beberapa orang berasal dari dunia fotografi dan menekuni cabang-cabang fotografi seperti jurnalistik dan dokumenter. Beberapa aspek dari kedua cabang tersebut menjadi dasar dalam mengolah pendekatan baru, misalnya performatif dan staging. Selain itu, beberapa orang tetap mempercayai dan berhasil menemukan lagi kekuatan fotografi dokumenter, sebagai sebuah medium alternatif dalam membicarakan persoalan-persoalan sosial-budaya kontemporer.

Dari arah yang lain terdapat beberapa beberapa orang yang berlatarbelakang pendidikan seni rupa. Mereka memilih fotografi sebagai sebuah konsekuensi estetik yang jitu atas eksekusi sebuah gagasan dibandingkan medium lain dalam praktik seni rupa kontemporer. Fotografi menjadi hasil akhir atau elemen penyusun karya sebagai laku interdisipliner dengan medium seni rupa lain. Praktik fotografi juga dipakai sebagai modus mengingat dan mempertanyakan konsep memori dalam membangun sebuah konstruksi sejarah. Fotografi juga menjadi basis dari sebuah karya instalasi gambar bergerak yang mewakil posisi manusia sebagai subyek-obyek dalam konstelasi budaya media dan layar.

Pendekatan-pendekatan artistik para seniman muda ini juga mewakili dinamisnya medan seni rupa Bandung yang menantang untuk mereka, terutama saat berhubungan secara timbal-balik dengan praktik fotografi yang memilliki tradisi cukup panjang di kota ini.

Chabib Duta Hapsoro
Kurator Pameran

Category Exhibition

Gallery At Work

Studio seniman dan penulis partisipan program Gallery At Work dibuka untuk umum mulai besok Jumat, 7 Agustus hingga Sabtu, 8 Agusuts 2015. Silahkan berkunjung untuk bertemu dan ngobrol dengan para partisipan tentang proyek yang sedang mereka kerjakan. Selain itu ada 2 seri diskusi bersama Wahyudin:

Diskusi #1
“Perupa & Tindakan”
Bersumber buku Sarah Thornton, 33 Artists in 3 Acts
Jumat, 7 Agustus 2015, 16.00-18.00 (tepat waktu)

Diskusi #1

“Nilai Open Studio”

Bersumber buku Jean Baudrillard, Simulation dan buku Boris Groys, On the New

Sabtu, 8 Agustus 2015, 16.00-18.00 (tepat waktu)

Wahyudin adalah penulis, kurator dan kritikus seni yang turut berpartisipasi di program Gallery At Work. Di akhir program ini Ia membuat seri diskusi yang membahas tentang program studio seniman dan ‘open studio’. Berikut ini pemaparannya mengenai seri diskusi tersebut:

Project saya adalah sebuah peristiwa-percakapan-peristiwa di antara dan/atau bersama perupa untuk masuk-menemu makna kesenirupaan dan kesenirupawan kiwari dalam perlintasan karya seni (artwork) dan seni berkarya (art work) sebagai pertukaran budaya-inovatif (cultural-innovative exchange) di atas falsafah, pinjam istilah orang Manado, “baku beking pande” (saling mendukung supaya menjadi pandai).

Nunung Prasetyo secara intensif meneruskan seri foto portrait pemain sepakbola yang berjudul “Club Supporter”. Berikut ini deskripsi proyek yang ia tuliskan:
Saya adalah supporter fanatik sepakbola dan dekat secara personal dengan beberapa pemain klub sepakbola dan supporter fanatik lainnya di beberapa kota Indonesia.

Selain sebagai supporter saya adalah seorang fotografer yang kerap kali mendokumentasikan perkembangan klub idola saya beserta aktifitasnya.
Melihat perkembangan sepakbola Indonesia sekarang ,banyak pemain yang berganti profesi untuk melangsungkan hidupnya. Dari persoalan tersebut saya membuat seri potrait mereka.

Selain itu saya juga mengumpulkan dokumentasi, artefak dan memorabilia yang berhubungan dengan persepakbolaan Indonesia. Dalam open studio ini Ia menggelar turnamen game Winning Eleven yang digelar malam ini dan besok mulai jam 18.00. Bagi yang tertarik untuk bertanding, silahkan datang ke Ruang MES 56.

Di program Gallery At Work ini, Anang Saptoto mengeksplorasi ketertarikannya pada distorsi proyeksi benda dan bagaimana kita melihatnya dalam sudut pandang tertentu. Berikut ini deskripsi proyek yang ia tuliskan:

Ini adalah upaya pencatatan kembali tentang suatu gesekan2, perbedaan pendapat/pandangan/cara berfikir yang terjadi dari masa ke masa di negara ini, tak terkecuali dalam konteks seni, bahkan antar pelakunya.

Kali ini saya berhenti di era Mooi Indie – Persagi. Saya tertarik melihat bagaimana Persagi/ Sudjojono dalam hal ini menolak dengan tegas estetika dari karya-karya Hindia Molek. Meskipun kita tahu bahwa beberapa anggota Persagi juga membuat karya yg menampilkan kemolekan Nusantara.

Beberapa arsip yang saya temukan saya olah ke dalam karya-karya dengan pendekatan perspektif proyeksi (Anamorphic). Praktik ini saya lakukan untuk melakukan pengalaman dalam melihat gambar/ dokumentasi yang di olah sedemikian rupa.

Seperti sejarah itu sendiri, bisa terdistorsi Dan pada saat yang sama menjadi sangat jelas, tergantung pada Cara pandang Yang melihatnya.

Rangga Purbaya sedang mengerjakan proyek fotografinya yang berjudul “Stories Left Untold”. Berikut ini deskripsi proyek yang dituliskannya:

Pada proyek ini saya akan membuat penelitian mengenai kakek saya, Boentardjo Amaroen Kartowinoto. Sosok yang tak pernah saya kenal kecuali hanya lewat foto dan cerita ayah saya. Baru setelah tahun 1998 saya mengetahui jika beliau adalah salah satu korban tahun 1965, hilang setelah ditangkap pada tanggal 10 November 1965. Saya berusahamencari informasi tentang beliau melalui arsip, foto dan dokumen keluarga yang masih terselamatkan serta melakukan wawancara dengan orang-orang yang pernah mengenal beliau semasa hidupnya.

Cerita tentang kakek saya ini cukup samar bagi kami cucu-cucunya, karena mungkin tidak semua dari orang tua kami menceritakan tentang peristiwa hilangnya beliau secara terbuka. Hidup dibawah tekanan rezim orde baru membuat keluarga korban 65 harus menyembunyikan sejarah keluarga mereka sedemikian rapat baik dari anak-anak mereka sendiri maupun masyarakat di sekitarnya. Bahkan di era reformasi seperti sekarang beberapa keluarga masih merasa harus menyembunyikan sejarahnya bahkan dari anak-anak mereka, sebagai generasi yang lahir paska 65 dan tumbuh di era orde baru saya hanya ingin mengetahui siapa Boentardjo Amaroen Kartowinoto.

Di akhir penelitian saya akan mempresentasikan hasil penelitian dalam bentuk foto dan print hasil scan artefak yang saya temukan.

Category News

Cinema Caravan

Cinema Caravan

“PLAY with The Earth”

Selasa, 9 Juni 2015

19.30 wib – selesai

Film, Dance, Performance, DJ, Instalasi Photo dan Melukis

Ruang MES 56, Jl. Mangkuyudan no 53A, Yogyakarta

Cinema Caravan adalah bioskop keliling yang mendasarkan kegiatannya pada konsep bisa “bermain dengan bumi” dengan panca indera – kadang-kadang diadakan di tepi pantai yang senyap, kadang-kadang di tengah sawah, di sebuah bukit, di atas reruntuhan bangunan bersejarah, atau diadakan di tengah denyut kesibukan kota.
Merangsang indera dapat membawa sebuah perjalanan ke sisi yang lebih dalam, dan membuat kemanusiaan seseorang bertumbuh. Saat membentangkan layar untuk menonton (film) di alam bebas dalam pelukan lanskap yang berbeda dari perjalanan kami sebelumnya, kami menciptakan panggung untuk pengalaman yang berbeda di tempat yang biasa saja.

Dan dalam proses ini, kami belajar dari orang-orang yang kami temui di jalan, tentang kebijakan mereka tentang bagaimana hidup, dan pengalaman budaya mereka yang beragam.
Menghubungkan kota ke kota, orang-orang, dan dengan menciptakan kesamaan di mana kita dapat bertukar dengan bebas, kami berusaha untuk menjadi kendaraan yang membawa kita lebih dekat dengan gerakan hidup – sehingga akhirnya kita bisa menghubungkan titik-titik dalam perjalanan kita.

Seniman: Rai Shizuno, Mikey, Michinori Maru, Eikou Haraguchi, Kuririn

 

Cinema Caravan is a mobile cinema based on the concept of being able to “play with the earth” with the five senses – set sometimes by a quiet bayside, sometimes in the middle of a rice field, on a hill, on the expended ruins of a place etched in history, or otherwise set in the middle of a pulsing city.

Stimulating the senses can make the journeys deeper, and makes one’s humanity more profound. Unfurling a screen for outdoor viewing in the different landscapes of our journey, we set the stage of non-routine experience in an everyday place.

And in the process, we learn from those we meet on the road their wisdom on how to live, and experience their varied cultures.

Connecting city to city, people to people, and by creating a common ground where we can exchange freely, we seek to be a vehicle that brings us closer to the movement of life – so that eventually we can connect the dots in our journey.

Artists: Rai Shizuno, Mikey, Michinori Maru, Eikou Haraguchi, Kuririn

Category News

FULLHOUSE

FULL HOUSE

Sebuah Pameran Galang Dana | A Fund Raising Exhibition

Seniman | Artist

Akiq AW, Agan Harahap, Angki Purbandono, Edwin ‘Dolly’ Roseno, Jimbo Allen Abel, J Bujangan Urban, Yaya Sung, Wimo Ambala Bayang, Wok The Rock, Yudha ‘Fehung’ Kusuma Putera, Yusuf Ismail, Yannick Cormier

Pembukaan | Opening :

Kamis, 4 Juni 2015, 19.30 WIB

Thursday, 4 June 2015, 7.30 pm

Pameran | Exhibition:

5 – 21 June 2015

Tempat | Venue:

Ruang MES 56

Jl. Mangkuyudan no 53A, Yogyakarta

Ruang MES 56 adalah lembaga berbadan hukum sebagai yayasan yang hidup dengan nafas kolektif sejak tahun 2002. Ruang MES 56 selalu berdiri pada dasar ilmu fotografi sebagai mediumnya yang kemudian selalu mengembangkan ide-ide kreatifnya bekerja dengan mencampurkan disiplin ilmu lain seperti; video, music, performance, antropologi, kedokteran, lukis, seni grafis, animasi atau apa saja untuk mendapatkan pengalaman dan daya tarik yang segar dalam mengolah fotografi sebagai sebuah konsep pada setiap masanya.

Ruang MES 56 juga tidak sungkan berubah sebagai rumah, untuk berkumpul sebagai ruang rekreasi bagi anggota MES-mesboys dan juga keluarganya. Memberikan nafas untuk ruang yang dibangun selama ini ternyata mudah! Tapi untuk mencukupi kebutuhan hidupnya yang tidak mudah!

Tahun 2015 adalah tahun ke-13 MES 56 sudah menggali dan menanam  apa yang dikuasainya di area fotografi; komersial, jurnalistik, desain, etnofotografi dan kontemporer. Tidak ada yang pernah disembunyikan dalam setiap proses hidup di antara anggota MES 56, mulai dari pelaksanaan program sampai urusan rumah,

secara keuangan kolektif anggota dan hasil dari kerjasama dengan beberapa lembaga seni lokal dan asing.

Tidak pernah sedetikpun persoalan-persoalan lembaga terlupakan, karena ini bukan mimpi. Banyak kesalahan jadi guru besar mesboys dalam membentuk garis baru melintang,membujur untuk strategi pemikiran ke depannya.

Hidup dan bekerja di Ruang MES 56 rasanya seperti duduk melingkar di meja poker, saling berhadapan tapi dengan kartu saling terbuka untuk bijak memberi kesempatan kepada yang lain menikmati kemenangan, kemenangan yang memberikan keseimbangan antara kawan, lawan dalam satu ruang tanpa harus ditutup-tutupi.

Ruang MES 56 memang bukan pemenang, kita hanya ingin punya kartu yang baik untuk selalu bisa melawan hidup.

 

MES 56 is a legal entities, a foundation with a collective spirit since 2002. MES 56 has been consistently using photography as a medium combined and developed with creative ideas to work with other disciplines such as video, music, performance, anthropology, medicine, painting, graphic arts, animation or anything to acquire experience and a fresh appeal in the process of photography as a concept at times.

MES 56 did not hesitate to become a home, to come together as a recreation room for MES-mesboys members and their families. Keeping the spirit of the space is surprisingly easy! But to make ends meet is not easy!

2015 is the 13th year of MES 56, we dug up and planted what we mastered in the area of ​​photography; commercial, journalistic, design, ethno-photography and contemporary. Nothing is hidden in the process of life among the members of the MES 56, either program implementation or home affairs, collective members financial state and the results of cooperation with several local and foreign art institutions

Not a split second that we forget about the institutional problems, since this is not a dream. Many mistakes become mesboys’ great teacher in forming a new transversal–longitudinal lines to the thought of future strategies.

Living and working with MES 56, is like sitting in a circle at a poker table, facing each other but with each cards open, wisely giving others the opportunity to enjoy the victory, a victory that provides balance between friends, opponents in mutual space without having to cover-up.

MES 56 is not a winner, we just want to have a good card to always fight in life.

Category Exhibition

IDEAS ARE LIKE FISH – Yannick Cormier

 

“Di balik setiap gambar, sesuatu menghilang”

Jean Baudrillard

Oleh: Yannick Cormier

Berawal dari emosi dan keterpukauan saya, yang dipicu oleh foto-foto yang saya temui. Karya fotografi ini ingin mengangkat mereka yang terlupakan dari perekonomian India yang menakjubkan. Berbagai komunitas mencoba mempertahankan ritual dan tradisi di tengah lingkungan yang di dalamnya terdapat revolusi ekonomi dengan globalisasi yang mengubah wajah bangsa secara cepat. Saya ingin menyaksikan sendiri tradisi dan asal muasal suatu bangsa, dengan cara yang estetis dan peka. Bersamaan dengan itu pula, sebuah perjalanan ke pulau Jawa, ke Yogyakarta, di Indonesia tempat terjadinya pertemuan-pertemuan unik telah mengantarkan saya pada tema; penggalan tak terpisahkan.

Proyek fotografi ini, yang kemudian menjadi obsesi sesungguhnya, diilhami dari pengalaman, perjumpaan dan kegiatan membaca saya, dsb. Proyek ini banyak berkembang seiring berjalannya waktu. Secara bersamaan, sebagai persona, saya juga berkembang berkat proyek ini dan membuat saya menemukan hal yang baru. Benar-benar ada pergulatan yang nyata antara praktik dan siapa saya sebagai persona.

Metode yang saya pakai sekarang adalah fotografi jurnalistik, yang tidak bisa menghindari investigasi dan realitas. Sebaliknya, saya memiliki kebebasan penuh mengenai lamanya waktu pengambilan obyek, interpretasi atas apa yang saya lihat dan pemilihan foto-foto. Pada akhirnya, hanya ide dan representasi yang diperhitungkan. Pentingnya dokumen adalah esensi dan menentukan dalam setiap proyek saya: dari kecermatan dokumentasi ini akan lahir, atau tidak, puisi.

 

“Ide itu bagaikan ikan”

oleh Jean-Pascal Elbaz

« Ide itu bagaikan ikan. Jika kamu ingin menangkap ikan kecil, kamu bisa berada di air dangkal. Tapi jika kamu ingin menangkap ikan besar, kamu harus pergi lebih dalam. Jauh di bawah kedalaman, ikan itu lebih kuat dan lebih suci. Mereka itu luar biasa besar dan abstrak.

Dan mereka sangat indah. »

―David Lynch, Catching the Big Fish: Meditation, Consciousness, and Creativity

Pada Januari 2014, Yannick Cormier, Fotografer yang tinggal di India sejak lebih dari 10 tahun, kembali lagi selama 3 minggu di kota Yogyakarta, Indonesia, yang sudah pernah dikunjunginya 2 tahun sebelumnya. Dari pagi hingga malam yang gelap, menyusuri kota di segala penjuru, Yannick Cormier tak henti–hentinya menangkap esensi dengan kamera berwarna peraknya, kesan yang ia rasakan tentang kota ini, masyarakatnya, kejadian yang sedikit banyak terlihat melingkupinya.

Dari kunjungan ke sanggar seniman hingga perjalanan di desa lereng gunung Merapi yang subur namun berbahaya, ia mengembara di reruntuhan candi-candi Hindu atau di gang yang remang-remang di ibukota budaya Jawa, matanya selalu mencari sesuatu.

Fotografer ini mempunyai pandangan yang tajam dan  hanya mengambil  sedikit gambar yang klise mengenai suatu hal. Akurat, tegas, cekatan dan setia dengan maestro fotografer dan pelukis besar yang menginspirasinya, setiap gambarnya dikomposisi dengan teliti, terukir oleh cahaya, merangkai sebuah dialog yang penuh rasa hormat dan empati dengan subjeknya.

Potret kota dalam bentuk montase yang ditampilkan sungguh sangat jauh dari apa yang mungkin kita harapkan. Yannick Cormier ingin turun lebih dalam ke pelosok kota, merangkai percakapan dengan masyarakatnya, dan memunculkan ke khalayak sebuah potret yang mencengangkan, tidak biasa dan mengagumkan.

Yannick Cormier langsung merasakan sebuah sensualitas yang besar di Jogja yang berusaha ia ungkapkan melalui pose yang simpel dan meyakinkan  dari modelnya yang menghadap lensa atau sentuhan sinar matahari pagi pada pemandangan sawah. Ia melukis galeri dengan potret-potret yang menggetarkan, remaja muslim berjilbab dan bercahaya yang berhadapan dengan pelacur remaja dari sebuah daerah miskin.

Selalu terpesona dengan topeng, pekerjaan yang tak henti-hentinya ia lakukan di India, Jawa juga menawarkannya baik topeng tradisional dari tari di Kraton, atau topeng-topeng di desa yang aneh maupun topeng-topeng yang ditemukannya secara tidak sengaja di simpang-siurnya jalan saat perjumpaan nokturnal… dan hingga sampai pada penyamaran dan tato.

Dibesarkan di lingkungan multikultural, karya fotografi Yannick Cormier terikat dengan asalnya di Prancis, lalu di India, untuk mendokumentasikan mereka yang tidak diperhitungkan dalam masyarakat yang menghadapi modernisasi: kasta rendah, kaum gipsi, transgender. Di Jogjakarta ia juga mengumpulkan potret para “tak terlihat” dengan latar lukisan perkotaan kontra-budaya: masyarakat kecil di sepanjang pinggir kali, tukang becak, dan juga anggota asosiasi yang bekerja dengan kaum transeksual…

Potret kota yang disajikan oleh Yannick Cormier membuka mata kita pada sebuah realitas lain yang tercipta dari bayangan dan cahaya, dari topeng dan realitas, tercampur dengan kreasi agung ritme dan komposisi, keindahan dan kesuraman, permukaan dan kedalaman.

__

“Behind every image something disappears”

Jean Baudrillard

By Yannick Cormier

 

First and foremost, there is emotion and fascination that is exercised on me by my encounters with these images. This body of photographic work takes interest in those forgotten by the Indian economic miracle. Of diverse indigenous communities, they are trying to ensure survival and continuity of their rites and traditions in the midst of an economic revolution and globalization that is rapidly changing the face of this nation. I seek to testify in an aesthetic and sensitive manner, the tradition and genesis of a country. In addition to this, is an escapade to the Indonesian island of Java at Jogjakarta where singular encounters brought me back to my subject, indivisible fragments.

This photography project, that has become a real obsession, feeds of my experiences my encounters, readings etc. It has evolved a lot with time. In parallel, as a person, I have constructed myself thanks to this project and what it has made me discover. There is a true emulation between my practice and who I am as a person.

Today, my method is that of a photographer journalist for whom investigation and reality cannot be circumvented. However, my freedom is total with regards to the duration of the shoot, the interpretation of what I see and selection of my photographs. In the end, only the idea and it’s representation count. The importance of the document is  essential and decisive in every one of my projects: of this documentary rigour, shall be born, or not, poetry.

 

“Ideas are like fish”

 by Jean-Pascal Elbaz

“Ideas are like fish. If you want to catch little fish, you can stay in the shallow water. But if you want to catch the big fish, you’ve got to go

deeper. Down deep, the fish are more powerful and more pure. They’re huge and abstract. And they’re very beautiful.”

―David Lynch, Catching the Big Fish: Meditation, Consciousness, and Creativity

In January 2014, Yannick Cormier, photographer living in India since more than 10 years, came back to spend 3 weeks in the city of Jogjakarta in Indonesia, a city he had already discovered 2 years ago. From early morning to dark night, crisscrossing the city in all directions, Yannick

Cormier was incessant in capturing the essence with his analog camera, the impressions he felt about the subject of this city, it’s habitants and currents more or less visible that compose the same.

From visits to artist workshops to promenades in villages perched on fertile but dangerous slopes of the Merapi volcano, he wandered inside the ruins of Hindu temples or dark streets of the cultural capital of Java, sharp eyed in permanence.

This photographer with a sharp look captures in his camera, very few number of shots on a subject. Precise, rigourous, rapid and loyal to the great masters of photography and paintings that inspire him, each of his images is carefully composed at the instant, sculpted with light,

engaging a dialogue full of respect and empathy with his subjects.

The portrait of this city that he offers us in the form of a collage is far from images that we could have expected. Yannick Cormier wished to descend to the deepest depths of the city, engage in conversation with those who people it and bring to the surface a portrait that is surprising, unusual and fascinating.

Yannick Cormier immediately felt in Jogjakarta, a great sensuality that he has strived to express through the simple and confident posture of a model in front of the camera or the tender caress of the morning sunshine on the large perspectives of rice farms. He paints a gallery of vibrant portraits of young veiled muslims and bright face to faces with young prostitutes of a working class neighbourhood.

Fascinated by masks since always, a work he pursues incessantly in India, Java offers him not only masks of traditional dances in the palace of the Sultan but also the grotesque of the villages or those found by hazard in the labyrinth of streets during his nocturnal encounters… and going on to disguises and tattoos.

Having grown up in a multicultural environment, the photographic works of Yannick Cormier is attached, from his origins in France, then in India, to documenting those who are often left out in societies that are on the way to modernization: untouchables, gypsies, transgenders.

Thus in Jogjakarta, he records portraits of the ‘invisibles’ against the backdrop of urban frescos of counter culture: little people of riverfront quarters, drivers of the pushcarts as well as members of associations who work with transsexuals.

The portrait of the city proposed by Yannick Cormier opens our eyes to another reality made from shadow and light, of masks and reality, mingling with great art, rhythm and composition, beauty and the obscure, the surface and depth.

Category Exhibition