Blog

Put Up a Signal

Put Up a Signal  dimulai di tahun 2013 sebagai sebuah kolaborasi kuratorial antara tiga lembaga: Asialink, Bus Projects, dan Ruang MES 56. Pada awalnya, proyek ini bertolak dengan tujuan untuk mengekplorasi kesempatan untuk kolaborasi yang lebih kaya serta memungkinkan pertukaran dengan menggunakan platform digital dan internet. Judul yang diambil mengacu pada cara sekaligus strategi komunikasi yang terjadi tanpa harus bertatap muka, dan potensi-potensi kreatif yang muncul di dalamnya; mengirimkan sinyal dengan harapan bisa diterima dan dimengerti. Kali pertama, yang melibatkan sebuah pameran (dan juga penayangan) karya-karya video di Bus Projects dan Federation Square, Melbourne, Australia dan sebuah publikasi, menjadi sebuah model kerja atau kolaborasi yang berkembang dan tidak terpusat antara seniman-seniman dan lembaga-lembaga yang terlibat, namun mampu, serta diharapkan terus berkelanjutan.

Proyek Put Up a Signal berhubungan erat dengan kompleksitas dan fluiditas yang mengakui bahwa, dengan munculnya media-media sosial, game online multiplayer, streaming video dan musik , platform web yang aksesibel, piranti lunak editing yang murah, dan kemampuan untuk menyiarkan kombinasi informasi pribadi dan profesional secara global, adalah pekerjaan seniman untuk membuat ‘makanan’, dan kemudian ‘untuk dimakan’ oleh lingkungan ini. Sekarang pada tahun 2014, dengan dukungan dari Australia Council of the Arts dan melalui diskusi antara para kurator dan seniman, proyek ini dikembangkan dengan pendekatan dan lintasan yang berbeda untuk mencakup keragaman praktik dan pendekatan kepada teknologi media dan budaya digital/ online.
.
Kita tahu bahwa hubungan antara seni dan teknologi media telah terjadi, saling berkelindan serta mempengaruhi satu sama lain, dan teknologi media baru bukan hanya mempengaruhi, namun telah menghancurkan hampir seluruh batasan atas apa yang selama ini dianggap realitas, bahkan batasan-batasan seni (visual) itu sendiri. Pameran ini menampilkan karya-karya berbasis teknologi media, yang tidak hanya terbatas pada seni video dengan satu pendekatan serta kecenderungan tertentu, melainkan juga bentuk-bentuk (turunan) lain yang telah familiar bagi khalayak luas; fotografi, instalasi, performans site-specific maupun karya-karya berbasis online (online-based). Bukan hanya sebatas ragam mediumnya saja, namun bagaimana cara kita mengonsumsi, cara kita melihat gambar dalam kehidupan sehari-hari, bagaimana imaji-imaji visual itu disebarluaskan, ditransmisikan serta disajikan juga dieksplorasi dalam pameran ini. Para seniman yang berpartisipasi dalam Put Up A Signal adalah mereka yang memiliki perhatian terhadap isu-isu yang berkaitan, atau pertautan antara seni dengan teknologi media. Tidak saja berkaitan dengan bagaimana teknologi media dimanfaatkan dalam praktek berkeseniannya, tetapi lebih jauh menjadi tema yang dominan dalam karya-karya mereka. Tema-tema yang muncul dalam pameran ini secara garis besar adalah: 1) Bagaimana teknologi media membentuk perilaku dan pemahaman atas bagaimana manusia melihat ruang (fisik maupun sosial), sekaligus ekspektasi-ekspekatasi atas ruang-ruang tersebut; 2) Bagaimana pemahaman tentang diri dan sejarahnya itu menemukan bentuk dan idiom-idiom yang belum ada sebelumnya; 3) Pada akhirnya, bagaimana seniman mampu menemukan bentuk ungkap baru atas gagasan-gagasannya.

Satu hal terpenting yang kami jadikan pertimbangan kuratorial pameran ini adalah, bahwa melihat seni media (hari ini) dalam kerangka estetika saja, atau melihatnya hanya dari kerangka seni semata merupakan tindakan yang semena-mena atau bahkan ”cukup sombong”, jika kita menyadari bahwa temuan atau perkembangan medium ini bukanlah buah dari sejarah seni (art history) ataupun sinema. Put Up A Signal juga menelaah bagaimana medium ini digunakan atau prakteknya dalam ranah populer.

Mungkin pameran ini adalah sebuah momen yang tepat untuk kembali dan terus memikirkan definisi seni itu sendiri, mematangkan eksplorasi medium, serta mempertanyakan batasan dan konvensi-konvensi seni. Hal yang mendasar dalam pameran ini bukan hanya pada pencapaian artistik maupun terobosan-terobosan dalam penggunaan medium, namun juga pada ”fungsi dan posisi” seniman serta karya-karyanya. Keseimbangan dari semuanya.

Put Up a Signal  began in 2013 as a curatorial collaboration between three arts organizations: Asialink, Bus Projects, and Ruang MES 56. Originally, the project set out with the aim of exploring opportunities for richer collaboration so that exchange could be made possible through the internet and digital platforms. The title refers to a way and also strategies for communication that takes place without meeting in person, and the creative potential inherent in these attempts. We send out signals in the hopes that they are received and understood. This first iteration, which involved an exhibition and screening of video works at Bus Projects and Federation Square, Melbourne, Australia and a publication, established an evolving, decentralized model of collaboration between artists and organizations that has continued over the subsequent year.

Put Up a Signal project embraces this complexity and fluidity and acknowledges that, with the rise of social media, multiplayer online gaming, videos and music streaming, accessible web platforms, inexpensive editing software, and an ability to broadcast a combination of personal and professional information globally, the work that artists are making feeds, and is fed by this milieu. Now in 2014, with the support from Australia Council of the Arts and through a discussion between the curators and artists, the project has developed to different approach and trajectories to encompass a diverse range of practices and approaches to media technology, and digital/ online culture.

We know that the relationship between art and media technology have occurred, intertwined and affect each other, and new media technologies not only influence, but has destroyed almost the entire limits of what is considered as reality, even the boundaries of the (visual) art itself. This exhibition shows media technology-based works which is not only limited to video art as the approach and with a certain tendency, but also other (derivatives) forms which has been familiar; photography, installation, site-specific performance and online based works. Not only limited to the range of the medium, but how we consume, the way we see pictures in daily life, how those visual images are distributed, transmitted and presented are also be explored in this exhibition. The artists who participate in Put Up A Signal are those who focus on issues related, or a linkage between art and media technology. Not only with regard to how this technology is used their arts practice, but also a dominant theme in their works. The themes that emerge in this exhibition are: 1) How media technologies shapes the behavior and understanding of the way human see space (physic and social), as well as expectations on those spaces; 2) How does an understanding of the self and its history discovered forms and idioms that did not exist before; 3) Last but not least, how the artist able to reveal a new form of said top ideas.

One of the most important things that we made ​​into consideration for this exhibition curatorial is, that seeing media art (nowadays) in terms of its aesthetics only, or seeing it only from art perspective is an act of arbitrary and even ‘pretty arrogant’, if we realized that the discovery and development of media art is not a result of art history or cinema. Put Up A Signal also examines how this medium is used or its practice in the popular realm.

Perhaps this exhibition is an appropriate moment to go back and continue to think about the definition of art itself, maturing the exploration of the medium, as well as questioning the boundaries and conventions of art. The essential thing in this show is not only on the artistic achievements and breakthroughs in the use of the medium, but also on ‘function and position of’ the artists and their works. The balance of all.

 

Category Articles, Exhibition

Pembukaan Pameran Bend Sinister

Pembukaan pameran Bend Sinister oleh Adam de Boer dan Sinta Tantra

iCAN Galeri, Jalan Suryodiningratan no 39 Yogyakarta

Pameran berlangsung dari hari Senin – Sabtu pukul 09:00 – 17:00, 4 – 22 September 2014.

Category Exhibition

WIPS Presentation by Adam de Boer & Sinta Tantra

WIPS Presentation by Adam de Boer & Sinta Tantra at iCAN (Indonesia Contemporary Art Network)

Category Presentation

Partisipan Youth Of Today Bicara Tentang Karyanya

Category Articles Tags

FKY: Live Cooking Project, Remixing Nusantara

MES 56 berpartisipasi di Live Coocking Project dengan tema Remixing Nusantara yang diselenggarakan oleh Festival Kesenian Yogyakarta ke 26. MES 56 diwakili oleh chef Jimbo dan chef Nunung.

Foto oleh Anang Saptoto

Category News

Presentation: Sinta Tantra

A British artist of Balinese descent, Sinta Tantra was born in New York in 1979. She studied at the Slade School of Fine Art, University College London 1999–2003 and at the Royal Academy Schools 2004–06. Tantra is well regarded for her site-specific murals and installations – many in the public realm. These include works for, Transport for London, the Southbank Centre, Canary Wharf Group, Liverpool Biennial, Bristol Royal Hospital for Children, Newnham College, Cambridge University. She has been recently shortlisted for the North Kensington Public Art Sculpture Commission alongside finalists such as Julian Opie, for her collaborative work with British sculptor Nick Hornby.

She describes her works as ‘painting on an architectural scale’, which celebrates the spectacle, questioning the decorative, functional and social role of art. Sinta Tantra has received many awards, including the prestigious Deutsche Bank Award, and this year she has been selected by the British Council and Arts Council UK for the International Development Award for her residency with Cemeti Art House and Ruang MES 56. During her residency period in Yogyakarta until the end of September, Sinta will explore Batik and make a research on mural and street art.

Category Presentation

Presentation: Adam de Boer

Adam de Boer (l. Riverside, California 1984) lulus S1 Jurusan Seni Lukis (2006) dari College of Creative Studies di University of California, Santa Barbara dan meraih gelar MA jurusan Seni Murni (2012) dari Chelsea College of Art and Design, London. 

de Boer telah memenangi beberapa penghargaan, antara lain DC Commission on the Arts and Humanities, Cultural Development Corporation, Santa Barbara Arts Fund, dan pada tahun 2011 mendapat beasiswa Arts for India Scholarship untuk menyelesaikan program masternya di Chelsea College of Art and Design. Pada musim gugur tahun 2012, dia bergabung dengan studio dan residensi pengajaran di International Institute of Fine Arts di Modinagar, India dan menghabiskan musim gugur 2013 di Bogotá, Colombia sebagai seniman residensi di Laagenicia. 

Musim panas tahun 2010 dan 2011, de Boer mengunjungi tanah kelahiran ayahnya di Purwokerto, Jawa Tengah, untuk menyelidiki keturunan Indo-nya. Karya terbarunya menggunakan gambaran dan kerajinan tradisional dari daerah ini sebagai cara untuk menghubungkan praktek artistiknya dengan budaya nenek moyangnya. Dalam residensinya kali ini dengan Ruang MES 56 dan Cemeti Art House, dia ingin mengembangkan proyek mengenai lukisan hibriditas Belanda-Indonesia. 



Adam de Boer (b. Riverside, California 1984) graduated with a BA in Painting (2006) from the College of Creative Studies at the University of California, Santa Barbara and an MA in Fine Art (2012) from the Chelsea College of Art and Design, London. 

de Boer has won several awards, including DC Commission on the Arts and Humanities, the Cultural Development Corporation, the Santa Barbara Arts Fund, and in 2011 received the Arts for India Scholarship to support his post-graduate studies at the Chelsea College of Art and Design. In the fall of 2012 he participated in a studio and teaching residency at the International Institute of Fine Arts in Modinagar, India and spent the fall of 2013 in Bogotá, Colombia as a resident artist at Laagenicia. 

In the summers of 2010 and 2011 de Boer travelled to his father’s birthplace in Purwokerto, Central Java to begin investigating his Indo heritage. His recent work employs imagery and traditional crafts from the region as a way to connect his artistic practice with those of his distant cultural forebears. During his residency at Ruang MES 56 and Cemeti Art House he will further his project on painting Dutch-Indonesian hybridity.

www.adamdeboer.com
www.mes56.com
www.cemetiarthouse.com

Category Presentation

Perasaan, Peta & Keamanan di Jalan Raya

Melalui workshop ini kami mengajak Anda bersama-sama menggunakan aplikasi SafetiPin untuk menandai lokasi atau tempat-tempat publik di Jogja yang menurut Anda tidak aman.

Acara ini merupakan respon Syafiatudina terhadap karya instalasi video dan sound “Agrofobia” dari Gisela Swaragita dan Dinda Advena.

Category Discussion, News, Workshop

Kisah di Balik Kisah

“Kisah di Balik Kisah”, bincang-bincang mengenai buku “Letters From The Cloud”, bersama Natasha Gabriella Tontey, Syafiatudina dan seorang tamu misterius yang kisah pengalamannya tentang bunuh diri ada dalam buku tersebut.

Diskusi juga membahas mengenai gaya penulisan Natasha yang menggabungkan antara kisah nyata dan fiksi. Di akhir diskusi, Syafiatudina menyampaikan bahwa ada hal yang ia paparkan selama diskusi adalah fiksi. Namun, ia tidak menceritakan bagian mana yang fiksi tersebut.

Category Discussion, News

Pembukaan Pameran Youth Of Today

 

                   YOUTH OF TODAY

Pembukaan Pameran:
Jum’at, 11 Juli 2014
19.00
Di Ruang MES 56,
Jalan Minggiran No. 61A, Yogyakarta

Pameran berlangsung hingga tanggal 20 Juli 2014

Artist Talk:
Sabtu, 12 Juli 2014
19.00

Seniman/Artist:
Dinda Advena
Gisela Swaragita
Natasha Gabriella Tontey
Syafiatudina
Syaura Qotrunadha

Apakah hal yang paling membuatmu gelisah? Inilah pertanyaan yang berulangkali dibicarakan oleh para peserta residensi Youth of Today di Ruang MES 56. Lima perempuan dengan latar belakang yang berbeda-beda, mengeskplorasi pengalaman dan pandangan personal mereka mengenai ruang, keluarga dan kematian. Pameran ini merupakan presentasi hasil dari proses diskusi dan mentoring yang dilakukan bersama dengan kelompok MES 56 selama dua bulan.

What makes you anxious? A question which is constantly being discussed by the participants of ‘Youth of Today’ residency program in Ruang MES 56. Five women with different backgrounds have been exploring their personal experiences and views on space, family and death. This exhibition is presented as the result of discussions and mentoring that have been conducted with MES 56 for two months.

www.mes56.com
youthoftodaymes56.tumblr.com

Category News