Sekitar tahun 1945-1949, pemerintah Australia meluncurkan program imigrasi untuk menambah jumlah populasi warga kulit putih secara signifikan. Salah satu alat propaganda yang digunakan adalah poster yang menunjukan Australia sebagai tanah impian, jaminan pekerjaan, tempat tinggal dan banyak kesempatan lainnya bagi orang eropa, terutama Inggris. Targetnya adalah menambah jumlah populasi sebanyak 1%.

Pada tahun 2014-2015, kita menyaksikan peningkatan permasalahan yang disebabkan oleh imigrasi, dan masalah ini menjadi persoalan kemanusiaan yang serius. Pengukuran mendalam telah diterapkan ke beberapa negara target migran, seperti Australia dan beberapa negara Eropa. Seolah-olah kita lupa bahwa leluhur semua bangsa adalah pendatang.

Seperti yang terlihat dari poster pasca Perang Dunia ke-2, proyek ini bertujuan untuk memvisualisasikan ide tanah impian untuk para imigran, yang terdampar dan ditahan di kamp imigran, terutama di Jawa. Dengan mengulang kembali pendekatan olah digital yang pernah dilakukan MES 56 pada proyek Holiday, proyek ini secara subversif adalah untuk membuat “impian para imigran menjadi kenyataan”, yang sebagian besar berharap untuk tinggal dan hidup di Australia.

Circa 1945-1949, the Australian government launched an immigration program to significantly increase the number of white- skinned population. One of the propaganda tools was using posters showing Australia as the future land, promises of occupation, houses and more opportunities for European, especially British. The target was set to increase the population by 1% of the immigrants.

In 2014 – 2015, we have witnessed the escalation problem caused by immigration, and the problems have become a serious humanitarian issue. Desperate measurements had been applied to some migrant target countries, like Australia and some European countries. It is as if we had forgotten that the ancestors of all nations are migrants.

As seen from the poster’s post 2nd World War, this project is to visualise the idea of a dreamland for the immigrants, who are stranded and being held in an immigrant camp, especially in Java. Using photography, subversively this project is to make the immigrant’s dreams come true, as to stay and live in Australia. We work with refugees from Afghanistan and Myanmar who live temporarily in Yogyakarta.