Outside-In
Wahya
Berni
Arahmaiani
Anggie
Ade Tanesia
Suliantoro

Solo Exhibition
Mie Cornoedus

Opening: November 23rd, 2009
Exhibition ends: December 10th, 2009

Ruang MES 56
Jl. Nagan Lor No.17
Yogyakarta, Indonesia 55131

Dalam rangka Bulan Fotografi 2009
Pameran ini terselenggara atas kerjasama LIP Jogja dan Ruang MES 56

Potret ‘Ibu-Ibu’ Dari Lensa Mie
Ketika Mie menghubungi saya beberapa bulan lalu untuk menjadi salah satu subjeknya dalam project ini,  saya jadi teringat sebuah film yang waktu itu belum lama saya tonton, judulnya ‘Calendar Girls’. Film Inggris tahun 2005 yang dibintangi aktris kawakan Helen Mirren, tentang sekelompok ibu-ibu manula yang membuat kalender serial foto bugil mereka sendiri untuk amal. Saya jadi langsung mengerti rasanya ketika adegan para ibu-ibu tersebut melakukan sesi foto dengan melepas baju sambil cekikikan.

Memang agak lucu rasanya ketika difoto dengan harus memakai kemben agar bahu kelihatan dan memikirkan pose apa yang cocok untuk mewakili diri sendiri, yang kemudian ‘diutak-atik’ lagi oleh Mie. Beberapa bulan kemudian, Mie sudah menyimpan satu koleksi foto sekitar 25 perempuan dengan bahu telanjang dengan gayanya masing-masing. Kinky sekali!

25 perempuan yang difoto oleh Mie memang tidak semuanya manula seperti dalam film ‘Calendar Girls’, tapi juga bukan foto model atau selebriti yang biasa berpose untuk majalah atau publisitas. Semuanya – menurut kriteria Mie, adalah perempuan-perempuan yang memiliki posisi tersendiri dalam dunia seni dan budaya di Jogja, baik posisi dalam arti jabatan atau dalam artian memiliki wewenang sebagai pengambil keputusan dalam kerjanya.

Mie bilang bahwa projectnya ini dilakukan sesuai pengamatannya bertahun-tahun melihat fenomena di lingkungan sekitarnya di Yogyakarta, bagaimana infrastruktur dunia seni dan budaya di Jogja selama ini yang selalu didominasi oleh para laki-laki di barisan depan sebagai pelaku atau si aktor utama, dengan dukungan di belakangnya di berbagai wilayah, mulai dari manajerial, akademis mau pun operasional, yang entah kebetulan atau tidak hampir semua di wilayah itu yang memegang posisinya adalah perempuan.

Analoginya ibarat sebuah keluarga besar yang dengan para perempuan yang memegang peran ‘Ibu’ di dalamnya. ‘Ibu’ dalam berbagai artian, bisa Ibu yang menaungi dan mengemong, Ibu yang mengatur segalanya, Ibu yang cerewet, Ibu yang merapikan segala hal yang berantakan, dan lain-lain. Secara kaum perempuan kebanyakan sudah memiliki naluri ‘Ibu’ ini (entah apakah memang sudah menjadi ibu dalam arti memiliki anak atau tidak), maka pengambilan peran ini pun biasanya sudah terjadi dan dijalankan secara natural.

Mungkin yang paling berat adalah ketika peran Ibu ini digabungkan juga dengan peran Inisiator, sang penggagas. Konstruksi sosial di negeri ini terbiasa melihat ‘Sang Ibu’ sebagai posisi support atau pendukung itu tadi, bukan si penggagas atau pencetus ide/pemikiran yang masih diakui sebagai wilayah ‘Sang Ayah’ atau kaum laki-laki. Laki-laki selama ini juga mencari pengakuan dari Laki-Laki lain. Dan Perempuan selama ini juga kebanyakan terseret dalam tendensi maskulin tersebut, mencari pengakuan dari Laki-Laki, menurut kriteria atau mata para Laki-Laki.

Persoalan pengakuan akan keberadaan dan peran para perempuan di wilayah penggagas, pelaku dan pengambilan keputusan ini yang hadir di balik koleksi potret Mie ini. 25 perempuan yang dipotret Mie ini dianggapnya sebagai para perempuan yang selama ini tidak hanya memegang posisi pendukung, tapi juga sebagai inisiator gagasan dan kemudian merealisasikan gagasan tersebut. Karya Mie adalah sebuah contoh dimana perempuan mengakui atau memvalidasi keberadaan perempuan lainnya melalui karya, dengan cara yang menyenangkan ala perempuan di pesta piyama: dengan cekikikan, genit, galak dan apa adanya.

Yang pasti saya senang difoto oleh Mie. It was fun. Kapan kita foto-fotoan lagi, Mbak?

Farah Wardani

2 Responses Subscribe to comments


  1. Mie Cornoedus | Exhibition- ei8ht photography

    [...] November 23rd, 2009 Exhibition ends: December 10th, 2009 Ruang MES 56 Jl. Nagan Lor No.17 Yogyakarta, Indonesia [...]

    Nov 20, 2009 @ 3:32 am


  2. obay minoral

    sebuah konsep dari ide yang matang.
    memang terlihat genit, fun, dan “ABG”

    Nov 23, 2009 @ 8:14 am

Have a say!