Safari
rusa-web
kangguru-web
dino-web

“SAFARI” adalah kisah perburuan Agan Harahap dari sebuah hutan belantara maya yang tidak berbatas. Semua jenis binatang ‘dipaksa’ masuk ke ruang imajinernya dengan segala cara sebagai parodi dari rutinitasnya sehari-hari sebagai manusia.

Ruang MES 56 sekali lagi dengan bangga ingin memperkenalkan hasil digital imaging photography dengan narasi yang terbaru dari seorang anak muda yang menetap dan bekerja sebagai fotografer untuk majalah musik-TRAX Magazine di Jakarta. Selain kepiawaiannya memotret para musisi Indonesia untuk kebutuhan majalahnya. Dia selalu memanfaatkan waktu luangnya untuk ‘membuat’ karya-karya fotografi  dengan idenya sendiri tanpa tuntutan dari siapapun.

Tahun 2009 ini Agan termasuk salah satu partisipan dalam ‘New Photography from Southeast Asia’ yang diselenggarakan oleh Valentine Willie Fine Art Gallery Kuala Lumpur, Malaysia dan pada tahun 2008 karyanya pernah dipamerkan dalam pameran bertajuk ‘Indonesia Art Award’ di Galeri Nasional Jakarta.

Menurut kami dia mewakili anak muda Indonesia yang sekarang ini sangat lihai dalam menggunakan  perangkat teknologi digital untuk berekspresi dan berbuat apa saja demi kesenangan pribadi atau bahkan sebagai pekerjaan utama mereka.

Kami berharap Anda bisa hadir untuk melihat dan membaca karyanya secara langsung, kemudian memberi dukungan demi kemajuan fotografi baik secara teknis maupun konsep.

Ruang MES 56
28 Juli 2009

Cuplikan pengantar SAFARI oleh Brigitta Isabella dan Yesaya Sandang:
Foto-foto yang Agan tawarkan memang memacu pikiran  kita untuk berfantasi. Dengan teknik olah imaji (digital imaging), saya pikir kemampuan Agan yang perlu diancungi jempol bukan hanya dalam hal memanfaatkan software Photoshop saja. Melalui medium yang memang dia terbiasa dan kuasai, ia juga mampu mengolah imajinasinya dengan sangat menawan. Pikirannya bisa melanglang buana, memikirkan apa yang tidak sempat orang lain pikirkan.
[Brigitta Isabella, “SAFARI YANG MEMANIPULASI IMAJINASI”, 2009]

Apa yang dilakukan Agan dapat dijelaskan juga dengan konsep memanusiakan binatang. Memanusiakan binatang disini berbeda dengan fabel (cerita-cerita yang menempatkan binatang sebagai tokoh utamanya dan memiliki pesan-pesan moral melalui pengidentikan karakter kehewanannya dengan karakter manusia). Para binatang yang hadir dalam Safari tidak diasosiasikan dengan karakter tertentu. Mereka hadir begitu saja bersanding dengan kita dan melakukan apa yang kita lakukan. Tengok saja misalnya sosok dua kijang yang berada dalam mobil, kijang-kijang ini seakan-akan hendak bergaya sembari menjulurkan kepalanya melihat keluar jendela. Bisa jadi mereka menatap dengan cuek carut marutnya kota metropolitan.
[Yesaya Sandang, “Mari berSAFARI”, 2009]

///english///

“SAFARI” is his hunting chronicle in a limitless virtual jungle. Diverse kinds of animals are “forced” to cross the threshold of his imaginary space by any means necessary; as a parody of his daily routine as a human being.

Once again, Ruang MES 56 proudly presents the upshot of digital imaging photography in a most recent narration—of a young man who lives and makes a living as a photographer for a music magazine, TRAX, in Jakarta. In addition to his expertise in taking shots of Indonesian musicians obligated by his magazine’s requirement, he manages to use his spare time ‘creating’ photography works on his very own will.

On this year of 2009, Agan is one of the artists who were invited to participate in ‘New Photography from Southeast Asia’, which was organized by Valentine Willie Fine Art Gallery Kuala Lumpur, Malaysia. And on 2008, his works were exhibited in an exhibition entitled ‘Indonesia Art Award’ at National Gallery, Jakarta.

In our opinion, he represents Indonesian youth, who nowadays are exceptionally skilled in utilizing digital technology devices to express and do anything for fun, or even as a part of their main occupation.

We sincerely wish for your attendance, to observe and interpret his works in person, and later to considerately giving your support on behalf of photography development, technically and conceptually.

Ruang MES 56
July 28, 2009

Citation of SAFARI’s preface by Brigitta Isabella and Yesaya Sandang:
The photographs offered by Agan are indeed imposing our mind to fantasize. According to me, by applying digital imaging, it is not just Agan’s forte in operating Photoshop software that should be acclaimed.  Through the medium he is accustomed to and expertise in, he is also accomplished to captivatingly process his imagination. His mind is able to globetrot; thinking about what others have never thought about before.
[Brigitta Isabella, “SAFARI THAT MANIPULATES IMAGINATION”, 2009]

What Agan does can also be explained through the concept of humanizing animal. Being different from fable [tales that place animal as the leading character and hold moral messages through the identifying of animalistic character with human character]. The animals present in SAFARI are not associated with particular character; they are simply being there, side by side with us and do what we do. Take a shot at the two deer in the car; they look as if they wanted to pose while craning their heads out of the window. Perhaps, they heedlessly gaze at the obscenity of the metropolitan.
[Yesaya Sandang, “Let’s do SAFARI”, 2009]

Pameran ini diselenggarakan oleh Ruang MES 56
Didukung oleh SUAVE dan I&D CREATIVE

For further writings about this exhibition please visit Kantor Berita MES 56


6 Responses Subscribe to comments


  1. Argus Firmansah

    Boleh tanya ya…

    Medium presentasi fotonya apakah masih menggunakan kertas foto atau ada medium lain?

    Thanks

    Aug 07, 2009 @ 4:49 am


  2. Agan Harahap

    halo bro..

    semuanya menggunakan kodak endura paper dan 1 hahnemühle rag baryta.

    thanx juga

    Aug 11, 2009 @ 9:53 am


  3. rama dhani

    selamat buat pamerannya….
    saya dimalang alhdulilah dah dapet katalognya, kemaren ada temen kejogya trus dikasih ma mas angki…kalo kemalang mampir2 diukm Format itn malang…salam kenal sebelumnya
    salut buat ide pamerannya

    Aug 17, 2009 @ 8:18 am


  4. daniel kampua

    mantap….agan sadis!!!salam sukses, selamat berkarya

    Aug 31, 2009 @ 4:52 am


  5. Loy62

    But, as inflation proceeds, people begin to real- ize that prices are going up perpetually as a result of per- petual inflation. ,

    Oct 22, 2009 @ 7:43 pm


  6. gleang

    kereennnnnn!!!!

    Feb 06, 2010 @ 10:34 am

Have a say!