SWAN DAY 2009 INDONESIA
“IT’S TIME TO PLAY”
Anneke Putri Purwidyantari
‘Chia’ Nurhamsiah
Curated by Angki Purbandono (Ruang MES 56)
Online Opening: March 28, 2009
Offline Exhibition: March 29 – April 28, 2009
Ruang MES 56
Jl. Nagan Lor No.17
Yogyakarta, Indonesia 55131
SWAN Day (Support Women Artist Now Day) is an international holiday celebrated annually on Saturday at the end of March; Women’s History Month. The second SWAN Day celebration is on March 28, 2009. By having the concern towards women artists, SWAN Day can give a thought-provoking contribution to those who presume, imagine, wonder what if the world was created filled with art and women’s perspectives, which then is being integrated into our life.
SWAN Day’s main objective is giving inspiration to communities all over the world in finding a new method to be familiar with and support women artists as the basic planning element in art.
IT”S TIME TO PLAY
It’s not just to having a discussion of oppression against women rights, but more to the will in creating newest information and compile short narrations on what happens to women and the environment around them. It’s Time to Play is Indonesian art product – a country consists of 150 million citizens which half of the population are women.
During the past year, Anneke Putri Purwidyantari and ‘Chia’ Nurhamsiah have gathered their research collection neatly and accurately. It is held as a part of SWAN Day, this is an excellent idea to be involved in giving inspiration to women worldwide. Why not? We will develop this idea into an online project. Every year we will open a free application for women artists in Indonesia to contribute their energy as the headline in our gallery.
During this event, Putri and Chia process their experiences using photography as the medium. Putri examined her childhood pictures when she wore her mother’s over-sized shoes. The behavior is repeated in her niece’s manners. Putri shows the pictures of adolescent girls who act ‘crazy’ to try to resemble the pretty teenage girls. A process of construction of ideas to be beautiful is taking place – possibly without realizing it – for years and is passed on from on generation to the next.
While Chia is more into finding out about the result of a process when parents – father and mother – hand down their discipline to the children, for instance when she takes picture of Hatta family who is a family of doctor. The father is a doctor, and the mother is a housewife. Both of their daughters are a dentist and a general practitioner. His son is not a doctor but he is married to a dentist, and his wife’s family is also a doctor family!
(Angki Purbandono)
Artist Statement
FAMILY PORTRAIT
by ‘Chia’ Nurhamsiah
A family is the smallest scale of society that all at once acts as the slightest governmental system in a state. And so, when we see a family, it is where a small world existing.
The identity of a family is often represented in a family photo. Frequently, we can find family photos being displayed in every house, whether it is in the living room, family room, bedroom, working room, on a shelf, etc.
Families are never free from conflicts; among parents and the children, sisters and brothers, and also wives and husbands. Started from the conflicts, I try to see, gaze at and observe the families from their profession sides.
In a family, many times the father will pass over his profession to his children, or not at all. Several factors are able to affect that, family factor, which means that the family atmosphere can influence the children’s thinking pattern, also surroundings factor which are living environment, societal environment of the children, etc. For example, in a doctor family it is possible that there is or there is not any child who follows the parents’ path.
FAKE PRETENDING OR TRULLY PRETENDING
By Anneke Putri Purwidyantari
In the beginning, I started the project because I was interested in the girl’s games which were always in the form of ‘pretending’ games. From cooking, housing, playing mom, etc, they all are pretending games. My childhood was also, inescapably, filled with these kinds of games. Until now, those games are still buzzing clearly in my mind. Ugh…I really miss that thrilling imaginary moment.
One unique thing I mostly remember is: pretending to be a grown up. Imitating Adult; that is how some psychology journals call it; performing as an adult and interpreting about what an ideal life is.
In playing, many references of what so-called ideal life are taken by little girls, from parents or adults around them, mass media, particularly television, magazine, etc. They, afterward, apply their interpretation into a game.
What I find interesting is how the little girls are undoubtedly using their parents’ stuffs to play; they just slapdash the make-up to their faces. Clothes, dress, and accessories also become their target to complete their imagination of becoming a mature women.
SHORT BIO
Nurhamsiah (Chia), born in Makassar in 1980. She graduated from Chemistry Department, Faculty of Math and Science, Gadjah Mada University Yogyakarta. Her final project/ thesis is “Silver Recovery of film-Processing Waste for Silver Plating on Iron”.
She joined in Photography Unit of Gadjah Mada University in 1999. Some of her works have been being exhibited in Yogyakarta, Bali, Makassar and Japan. Matabaca magazine also published her works in several editions. In 2003, she joined in Gadjah Mada Theatre as stage photographer. During her process in the theatre, she held her photography solo exhibition on the play of Kethoprak Lesung, Gadjah Mada University in Makassar and Yogyakarta. In 2007, she was in internship program at Cemeti Art House. Currently, she works as researcher assistant of Analysis on Environmental Impact in Makassar.
Anneke Putri Purwidyantari (Putik), born in Surabaya in 1985. She graduated from Public Realtion Department, Faculty of Social and Politic Science, Gadjah Mada University. She joined in Photography Unit of Gadjah Mada University in 2004. At the present she is active in writing, drawing, making design, making photographs and video, and also making money.
SWAN DAY 2009 INDONESIA “IT’S TIME TO PLAY”
Organized by Ruang MES 56
In partnership with UFO UGM, Crown Photo Studio, and Super Photo Studio
In association with WomenArts/The Fund for Women Artists
Main Website: www.WomenArts.org
SWAN Day Website: www.SwanDay.org
CP: Angki Purbandono
Phone: +62 817 915 1155
e-mail: angsmail@gmail.com
SWAN DAY (Support Women Artist Now Day) merupakan hari libur internasional yang akan dirayakan tiap tahun, jatuh tiap hari Sabtu di akhir bulan Maret, Women’s History Month. Hari SWAN Day kedua akan jatuh pada hari Sabtu, 28 Maret 2009. Dengan menaruh perhatian pada pekerja seniman perempuan, SWAN Day akan dapat memberikan bantuan pemikiran kepada orang-orang untuk mengira-ngira, membayangkan, berandai-andai, bagaimana jika dunia tercipta penuh dengan seni dan juga perspektif perempuan yang kemudian terintegrasikan dalam kehidupan kita. Sasaran utama SWAN Day adalah memberikan inspirasi bagi para komunitas seluruh dunia untuk menemukan cara yang baru untuk mengenal dan mendukung seniman perempuan sebagai unsur dasar perencanaan dalam kesenian.
IT’S TIME TO PLAY
Tidak melulu pada pembahasan terbelenggunya hak hidup bagi perempuan tapi lebih pada keinginan untuk menciptakan berita terbaru dan mengumpulkan narasi-narasi kecil tentang apa yang terjadi pada perempuan dan lingkungan sekitarnya. It’s time to play adalah produk kesenian dari Indonesia-sebuah negara yang berpenduduk lebih dari 150 juta orang yang hampir separuhnya adalah perempuan.
Anneke Putri Purwidyantari dan ‘Chia’ Nurhamsiah telah mengumpulkan koleksi penelitiannya dalam satu tahun ini dengan cermat dan baik. Diadakan sebagai bagian dari SWAN Day, ini adalah ide yang bagus untuk bisa juga terlibat dalam memberikan inspirasi bagi perempuan di seluruh dunia. Kenapa tidak? Ide ini akan kami kembangkan menjadi sebuah on line project. Setiap tahunnya kami akan membuka aplikasi bebas bagi seniman perempuan di Indonesia untuk menyumbangkan energinya sebagai berita utama di galeri kami.
Dalam kesempatan ini Putri dan Chia mengolah pengalaman mereka dengan menggunakan medium fotografi. Putri mengamati dari foto semasa kecilnya waktu dia memakai sepatu ibunya yang tampak sangat kebesaran. Kemudian perilaku itu terulang kembali ketika dia melihat tingkah keponakannya sekarang yang sama dengan tingkahnya dulu. Putri menampilkan foto gadis-gadis balita yang bertingkah ‘gila’ untuk jadi seorang remaja cantik. Sebuah proses pembentukan konstruksi ide menjadi cantik yang berlangsung—bahkan mungkin tanpa disadari—selama bertahun-tahun dan diturunkan dari generasi ke generasi.
Sedangkan Chia lebih ingin tahu tentang hasil dari proses orang tua-bapak dan ibu- menurunkan ilmu kepada anak-anaknya. Seperti dia memotret keluarga Hatta yang adalah keluarga dokter. Bapaknya seorang dokter gigi, istrinya seorang ibu rumah tangga. Kedua anak perempuannya menjadi dokter gigi dan dokter umum. Anak laki-laki mereka bukan seorang dokter tapi dia menikah dengan seorang dokter gigi. Dan keluarga dari istrinya adalah keluarga dokter pula!
(Angki Purbandono)
Artist Statement
FAMILY PORTRAIT
oleh ‘Chia’ Nurhamsiah
Keluarga merupakan kehidupan terkecil dalam masyarakat sekaligus berperan sebagai sistem pemerintahan terkecil dalam sebuah negara. Sehingga, ketika melihat sebuah keluarga, disitulah dunia kecil berada.
Identitas sebuah keluarga seringkali ditampilkan dalam sebuah foto keluarga. Tak jarang kita dapati foto-foto keluarga terpampang di setiap rumah, entah di ruang tamu, ruang keluarga, kamar tidur, kamar kerja, di atas buffet, dan lain sebagainya.
Sebuah keluarga tak pernah lepas dari konflik, baik itu konflik yang terjadi antara orang tua dan anak, sesama saudara, bahkan suami istri. Berawal dari konflik tersebut, saya mencoba melihat, memandang dan mengamati keluarga dari sisi ke-profesi-an.
Dalam sebuah keluarga, seringkali profesi sang Bapak turun ke anak-anaknya, atau bahkan tidak sama sekali. Beberapa faktor dapat mempengaruhi hal itu, antara lain faktor keluarga dalam artian atmosfer yang ada dalam keluarga tersebut mempengaruhi pola pikir si anak, lalu faktor lingkungan yakni lingkungan tempat tinggal, lingkungan bergaul si anak, dsb. Sebagai contoh, dalam sebuah keluarga dokter, terkadang ada anak yang mengikuti jejak orang tuanya dan adapula yang tidak.
SEKEDAR PURA-PURA ATAU MEMANG PURA-PURA
oleh Anneke Putri Purwidyantari
Pada mulanya, saya mengawali proyek ini karena tertarik pada permainan anak-anak perempuan yang serba –an. Masak-masakan, rumah-rumahan, ibu-ibuan, dsb; semuanya merupakan permainan pura-pura. Masa kecil saya pun tidak luput dengan permainan pura-pura ini. Semua serial permainan khas anak perempuan sudah saya jalani. Hingga saat ini permainan-permainan itu masih teriang-ngiang dengan jelas di kepala saya. Ugh… saya begitu merindukan masa-masa khayal yang menyenangkan itu.
Satu hal khas dari permainan-pemainan itu yang paling saya ingat: Selalu berpura-pura menjadi orang dewasa. Mengimitasi orang dewasa, begitulah beberapa jurnal psikologi menyebutnya. Selalu mengambil peran sebagai sosok dewasa dan berinterpretasi mengenai kehidupan yang ideal.
Dalam bermain, banyak referensi mengenai kehidupan ideal yang diambil anak-anak perempuan seperti: orang tua/orang dewasa di sekitar anak; media massa: terutama televisi, majalah; dsb. Kemudian, mereka mengaplikasikan interpretasi tersebut ke dalam sebuah permainan.
Menariknya, anak-anak perempuan tersebut tidak segan untuk menggunakan benda-benda milik orang tuanya untuk bermain. Mereka mencelemongkan berbagai jenis make-up ke wajah. Pakaian, baju, dan aksesoris pun menjadi sasaran untuk melengkapi khayalan mereka menjadi perempuan dewasa.
SHORT BIO
Nurhamsiah (Chia), lahir di Makassar pada tahun 1980. Ia alumnus Jurusan Kimia, Fakultas Matermatika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Tugas akhirnya adalah “Silver Recovery of film-Processing Waste for Silver Plating on Iron”.
Ia bergabung dengan Unit Fotografi UGM pada tahun 1999. Beberapa karyanya pernah dipamerkan di Yogyakarta, Bli, Makassar dan Jepang. Selain itu, karyanya juga pernah dimuat beberapa edisi di Majalah Matabaca. Tahun 2003, bergabung dengan Teater Gadjah Mada sebagai fotogafer pertunjukan. Selama berproses di Teater Gadjah Mada, ia kemudian mengadakan pameran tunggal foto pertunjukan Kethoprak Lesung Teater Gadjah Mada di Makassar dan di Yogyakarta. Pada tahun 2007, magang manajemen galeri di Rumah Seni Cemeti. Sekarang ini bekerja sebagai asisten peneliti (tenaga tidak tetap) Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) di Makassar.
Anneke Putri Purwidyantari (Putik), lahir di Surabaya pada tahun 1985. Ia alumnus Jurusan Public Relation, Program Diploma Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Gadjah Mada. Ia bergabung dengan Unit Fotografi pada tahun 2004. Sekarang ini, ia sibuk menulis, menggambar, mendesain, memotret, membuat video dan mencari uang.








mulyawan ghalib
good…i like yours consep….next projec terusssss salam hangat dari makassar
Mar 31, 2009 @ 2:24 pm
Rahmah Usman
Aktivitas yang menarik…
Sekiranya aku juga bisa ikut andil
Apr 01, 2009 @ 1:17 am
JeckeDabitz
good concept!!!
i love it…^_^
Apr 06, 2009 @ 3:42 am
Uut
Bravo N Saluut Tuk K’chia (my twins… ^_^)
Miss u Sist!
For Putik: So Imagine Concept…!
Apr 07, 2009 @ 4:37 am
dsoesanto
sip….
terus maju…..
ada sensasi lain…………
Apr 10, 2009 @ 6:00 pm
indy
damn good… keep up!
Jun 26, 2009 @ 1:01 am
indy
chia from mks… sounds good for me… cayo!!
Jun 26, 2009 @ 1:03 am