IDEAS ARE LIKE FISH – Yannick Cormier

 

“Di balik setiap gambar, sesuatu menghilang”

Jean Baudrillard

Oleh: Yannick Cormier

Berawal dari emosi dan keterpukauan saya, yang dipicu oleh foto-foto yang saya temui. Karya fotografi ini ingin mengangkat mereka yang terlupakan dari perekonomian India yang menakjubkan. Berbagai komunitas mencoba mempertahankan ritual dan tradisi di tengah lingkungan yang di dalamnya terdapat revolusi ekonomi dengan globalisasi yang mengubah wajah bangsa secara cepat. Saya ingin menyaksikan sendiri tradisi dan asal muasal suatu bangsa, dengan cara yang estetis dan peka. Bersamaan dengan itu pula, sebuah perjalanan ke pulau Jawa, ke Yogyakarta, di Indonesia tempat terjadinya pertemuan-pertemuan unik telah mengantarkan saya pada tema; penggalan tak terpisahkan.

Proyek fotografi ini, yang kemudian menjadi obsesi sesungguhnya, diilhami dari pengalaman, perjumpaan dan kegiatan membaca saya, dsb. Proyek ini banyak berkembang seiring berjalannya waktu. Secara bersamaan, sebagai persona, saya juga berkembang berkat proyek ini dan membuat saya menemukan hal yang baru. Benar-benar ada pergulatan yang nyata antara praktik dan siapa saya sebagai persona.

Metode yang saya pakai sekarang adalah fotografi jurnalistik, yang tidak bisa menghindari investigasi dan realitas. Sebaliknya, saya memiliki kebebasan penuh mengenai lamanya waktu pengambilan obyek, interpretasi atas apa yang saya lihat dan pemilihan foto-foto. Pada akhirnya, hanya ide dan representasi yang diperhitungkan. Pentingnya dokumen adalah esensi dan menentukan dalam setiap proyek saya: dari kecermatan dokumentasi ini akan lahir, atau tidak, puisi.

 

“Ide itu bagaikan ikan”

oleh Jean-Pascal Elbaz

« Ide itu bagaikan ikan. Jika kamu ingin menangkap ikan kecil, kamu bisa berada di air dangkal. Tapi jika kamu ingin menangkap ikan besar, kamu harus pergi lebih dalam. Jauh di bawah kedalaman, ikan itu lebih kuat dan lebih suci. Mereka itu luar biasa besar dan abstrak.

Dan mereka sangat indah. »

―David Lynch, Catching the Big Fish: Meditation, Consciousness, and Creativity

Pada Januari 2014, Yannick Cormier, Fotografer yang tinggal di India sejak lebih dari 10 tahun, kembali lagi selama 3 minggu di kota Yogyakarta, Indonesia, yang sudah pernah dikunjunginya 2 tahun sebelumnya. Dari pagi hingga malam yang gelap, menyusuri kota di segala penjuru, Yannick Cormier tak henti–hentinya menangkap esensi dengan kamera berwarna peraknya, kesan yang ia rasakan tentang kota ini, masyarakatnya, kejadian yang sedikit banyak terlihat melingkupinya.

Dari kunjungan ke sanggar seniman hingga perjalanan di desa lereng gunung Merapi yang subur namun berbahaya, ia mengembara di reruntuhan candi-candi Hindu atau di gang yang remang-remang di ibukota budaya Jawa, matanya selalu mencari sesuatu.

Fotografer ini mempunyai pandangan yang tajam dan  hanya mengambil  sedikit gambar yang klise mengenai suatu hal. Akurat, tegas, cekatan dan setia dengan maestro fotografer dan pelukis besar yang menginspirasinya, setiap gambarnya dikomposisi dengan teliti, terukir oleh cahaya, merangkai sebuah dialog yang penuh rasa hormat dan empati dengan subjeknya.

Potret kota dalam bentuk montase yang ditampilkan sungguh sangat jauh dari apa yang mungkin kita harapkan. Yannick Cormier ingin turun lebih dalam ke pelosok kota, merangkai percakapan dengan masyarakatnya, dan memunculkan ke khalayak sebuah potret yang mencengangkan, tidak biasa dan mengagumkan.

Yannick Cormier langsung merasakan sebuah sensualitas yang besar di Jogja yang berusaha ia ungkapkan melalui pose yang simpel dan meyakinkan  dari modelnya yang menghadap lensa atau sentuhan sinar matahari pagi pada pemandangan sawah. Ia melukis galeri dengan potret-potret yang menggetarkan, remaja muslim berjilbab dan bercahaya yang berhadapan dengan pelacur remaja dari sebuah daerah miskin.

Selalu terpesona dengan topeng, pekerjaan yang tak henti-hentinya ia lakukan di India, Jawa juga menawarkannya baik topeng tradisional dari tari di Kraton, atau topeng-topeng di desa yang aneh maupun topeng-topeng yang ditemukannya secara tidak sengaja di simpang-siurnya jalan saat perjumpaan nokturnal… dan hingga sampai pada penyamaran dan tato.

Dibesarkan di lingkungan multikultural, karya fotografi Yannick Cormier terikat dengan asalnya di Prancis, lalu di India, untuk mendokumentasikan mereka yang tidak diperhitungkan dalam masyarakat yang menghadapi modernisasi: kasta rendah, kaum gipsi, transgender. Di Jogjakarta ia juga mengumpulkan potret para “tak terlihat” dengan latar lukisan perkotaan kontra-budaya: masyarakat kecil di sepanjang pinggir kali, tukang becak, dan juga anggota asosiasi yang bekerja dengan kaum transeksual…

Potret kota yang disajikan oleh Yannick Cormier membuka mata kita pada sebuah realitas lain yang tercipta dari bayangan dan cahaya, dari topeng dan realitas, tercampur dengan kreasi agung ritme dan komposisi, keindahan dan kesuraman, permukaan dan kedalaman.

__

“Behind every image something disappears”

Jean Baudrillard

By Yannick Cormier

 

First and foremost, there is emotion and fascination that is exercised on me by my encounters with these images. This body of photographic work takes interest in those forgotten by the Indian economic miracle. Of diverse indigenous communities, they are trying to ensure survival and continuity of their rites and traditions in the midst of an economic revolution and globalization that is rapidly changing the face of this nation. I seek to testify in an aesthetic and sensitive manner, the tradition and genesis of a country. In addition to this, is an escapade to the Indonesian island of Java at Jogjakarta where singular encounters brought me back to my subject, indivisible fragments.

This photography project, that has become a real obsession, feeds of my experiences my encounters, readings etc. It has evolved a lot with time. In parallel, as a person, I have constructed myself thanks to this project and what it has made me discover. There is a true emulation between my practice and who I am as a person.

Today, my method is that of a photographer journalist for whom investigation and reality cannot be circumvented. However, my freedom is total with regards to the duration of the shoot, the interpretation of what I see and selection of my photographs. In the end, only the idea and it’s representation count. The importance of the document is  essential and decisive in every one of my projects: of this documentary rigour, shall be born, or not, poetry.

 

“Ideas are like fish”

 by Jean-Pascal Elbaz

“Ideas are like fish. If you want to catch little fish, you can stay in the shallow water. But if you want to catch the big fish, you’ve got to go

deeper. Down deep, the fish are more powerful and more pure. They’re huge and abstract. And they’re very beautiful.”

―David Lynch, Catching the Big Fish: Meditation, Consciousness, and Creativity

In January 2014, Yannick Cormier, photographer living in India since more than 10 years, came back to spend 3 weeks in the city of Jogjakarta in Indonesia, a city he had already discovered 2 years ago. From early morning to dark night, crisscrossing the city in all directions, Yannick

Cormier was incessant in capturing the essence with his analog camera, the impressions he felt about the subject of this city, it’s habitants and currents more or less visible that compose the same.

From visits to artist workshops to promenades in villages perched on fertile but dangerous slopes of the Merapi volcano, he wandered inside the ruins of Hindu temples or dark streets of the cultural capital of Java, sharp eyed in permanence.

This photographer with a sharp look captures in his camera, very few number of shots on a subject. Precise, rigourous, rapid and loyal to the great masters of photography and paintings that inspire him, each of his images is carefully composed at the instant, sculpted with light,

engaging a dialogue full of respect and empathy with his subjects.

The portrait of this city that he offers us in the form of a collage is far from images that we could have expected. Yannick Cormier wished to descend to the deepest depths of the city, engage in conversation with those who people it and bring to the surface a portrait that is surprising, unusual and fascinating.

Yannick Cormier immediately felt in Jogjakarta, a great sensuality that he has strived to express through the simple and confident posture of a model in front of the camera or the tender caress of the morning sunshine on the large perspectives of rice farms. He paints a gallery of vibrant portraits of young veiled muslims and bright face to faces with young prostitutes of a working class neighbourhood.

Fascinated by masks since always, a work he pursues incessantly in India, Java offers him not only masks of traditional dances in the palace of the Sultan but also the grotesque of the villages or those found by hazard in the labyrinth of streets during his nocturnal encounters… and going on to disguises and tattoos.

Having grown up in a multicultural environment, the photographic works of Yannick Cormier is attached, from his origins in France, then in India, to documenting those who are often left out in societies that are on the way to modernization: untouchables, gypsies, transgenders.

Thus in Jogjakarta, he records portraits of the ‘invisibles’ against the backdrop of urban frescos of counter culture: little people of riverfront quarters, drivers of the pushcarts as well as members of associations who work with transsexuals.

The portrait of the city proposed by Yannick Cormier opens our eyes to another reality made from shadow and light, of masks and reality, mingling with great art, rhythm and composition, beauty and the obscure, the surface and depth.

Category Exhibition

Pembukaan Sakinah

Meski hujan seperti tumpah, tapi warga Mantrijeron dan kawan-kawan meluangkan waktu untuk hadir, sungguh salute atas dukungannya. Jangan lupa datang ke Sarasehan pada Senin 4 Mei 2015 jam 16.00 wib. Silakan mampir ke Ruang MES 56, galeri buka Selasa – Sabtu jam 12.00 – 21.00 wib.

Seniman / Artists:
Ruang MES 56 dan Komunitas Mantrijeron

Inisiator Proyek / Project Initiator : Jim Allen Abel

Tim Kerja / Team Work:
Fajar Riyanto, Gatari Surya, Nunung Prasetyo, Eri Rama Putra, Afil Wijaya, Angki Purbandono

Esai / Essay:
Arham Rahman

Pembukaan/ Opening :
Jumat, 24 April 2015, 19.30 WIB
Friday, 24 April 2015, 7.30 pm

Pameran / Exhibition:
25 April – 9 Mei 2015

Sarasehan / Discussion:
Senin, 4 Mei 2015, 16.00 WIB
Monday, 4 May 2015, 4 pm

Tempat / Venue:
Ruang MES 56
Jl. Mangkuyudan no 53A, Yogyakarta

“Sakinah” adalah proyek seni yang bertujuan melihat dan membaca praktik fotografi populer masyarakat khususnya masyarakat kampung Mantrijeron, kampung di mana Ruang MES 56 sekarang beraktivitas dan bertempat tinggal. Sudah menjadi hal jamak sebagai warga yang baru untuk membangun hubungan yang baik dan produktif dengan tetangga dan warga kampung sekitar.

Keterlibatan warga menjadi hal utama dalam proyek seni ini, untuk secara bersama-sama mengeksplorasi arsip-arsip foto yang mereka miliki, beserta ingatan-ingatan yang ada didalamnya. Tentang hubungan di dalam keluarga, hubungan sosial dengan tetangga dan lingkungan sekitar tempat tinggal kita. Proyek “Sakinah” ini diharapkan mampu menjadi jembatan yang baik dalam mengembangkan kerja seni dan budaya di kampung Mantrijeron.

“Sakinah” is an art project aimed to look closely and to read the popular photography practices in society, especially the Mantrijeron neighborhood, where MES 56 is currently located and create works and projects. It is very common approach for MES 56, as a new member or this society, to build up a good and yet productive relationship with the neighbors and neighborhood.

Participation of the neighbor is essential in this art project, to then mutually explore their photo archive and the memories contained in it. It is about the relationships in the families, social relationship with the neighbors, surroundings and neighborhood we live in. “Sakinah” project is to provide a solid bridge in developing work of art and culture in Kampung Mantrijeron.

 

Sakinah

 

–Arham Rahman

“Kneel down and pray, and you will believe you knelt down because of your belief

Slavoj Zizek

 

 

Apa batas dari ‘sakinah’ (ketenangan, ketentraman, kebahagiaan)? Sakinah boleh dilihat sebagai kondisi sebuah relasi yang dibayangkan ideal dalam institusi keluarga atau masyarakat. Sebagai konsep abstrak, lokus keyakinan terhadap sakinah–bahwa kita sudah sakinah–adalah ‘hukum masyarakat’. Saat berpartisipasi di dalamnya (hukum masyarakat dengan aneka ritusnya), kita digiring pada sesuatu yang asing, sensasi komunalisme; perasaan berada di tengah kerumunan yang punya aturan main dengan tawaran ‘pengalaman kesenangan’ tertentu. Hukum masyarakat selalu berusaha menyediakan makna perihal apa itu sakinah.

Dalam ritus sosial seperti perkawinan, selalu ada harapan pada pasangan pengantin agar menjadi ‘keluarga yang sakinah’. Namun, seperti apa bentuk sakinah yang dibayangkan itu? Bentuk sakinah yang sudah dikonstitusikan oleh masyarakat; punya anak, banyak rejeki, berkecukupan, terpandang di mata orang kebanyakan, menjadi bagian dari sebuah jaringan kekerabatan, etc. Dengan begitu, pernyataan “semoga menjadi keluarga sakinah” juga bisa berarti “semoga menjadi keluarga sakinah, seperti (sakinah) yang didambakan masyarakat”.

Meski demikian, setiap orang merespon sakinah dengan cara yang berbeda. Espektasi setiap orang serba-beragam, sehingga makna yang tersedia di dalam lingkungan sosial tertentu selalu gagal mengartikulasikan sakinah secara tepat. Segala sesuatu yang diandaikan sebagai ‘sakinah’ tidak pernah cukup dan menuntut untuk dicari terus menerus. Artinya, ia tidak pernah punya batas. Karena itu, saat direduksi menjadi objek–yang mengandaikan kepemilikan atas sesuatu–sakinah sekadar menyediakan kepuasan parsial.

Boleh jadi, sakinah hanya espektasi kosong, mimpi tentang sebuah kondisi keluarga atau masyarakat ideal yang tidak benar-benar bisa eksis. Atau ia hanya memori yang sudah mulai buluk dan diharapkan kehadirannya kembali meski mustahil. Dalam arti kata, sakinah adalah peristiwa ideal yang ‘hilang’. Ruang-ruang klangenan dalam masyarakat urban mungkin bisa dilihat sebagai upaya mencari kondisi yang sakinah. Begitu juga dalam ruang memori sebuah keluarga, dimana kondisi sakinah hanya bisa hadir sebagai jejak.

Bilamana sakinah itu demikian, –atau tidak ada sakinah yang ‘benar-benar sakinah’–apa pentingnya ia dipelihara sebagai mimpi dan diandaikan ada? Sakinah di sini musti hadir sebagai penunjang; memberi garansi bagi keluarga atau praktik hidup tertentu di dalam institusi masyarakat. Namun demikian, sakinah itu tidak transenden, tetapi kontingen (contingency). Di setiap masa, keluarga, lingkungan sosial atau apapun namanya, sakinah dibayangkan dengan cara berbeda, kondisional dan tidak pasti.

Dalam masyarakat Tenganan Pegringsingan-Karangasem, Bali misalnya, perkawinan endogami dibanyangkan sebagai bentuk ideal sebuah keluarga sekaligus menjadi ‘kancing pengikat’ (quilting point) bagi ikatan sosial masyarakat setempat. Begitu juga dengan sistem perkawinan antar-kerabat dalam masyarakat Bugis (Bug. “asseajingeng”; Eng. “take each other”) yang sangat didambakan dan diidealkan. Keduanya bukan sekadar taktik agar ‘warisan’ keluarga tidak lari kemana-mana, melainkan juga menjadi penanda bagi konsep sakinah.

Namun, tidak semua orang di kedua masyarakat itu takluk pada ‘makna sakinah’ yang tersedia. Tetap ada yang menikah dengan sistem eksogami atau tidak menikah dengan orang dari jaringan kekerabatannya. Mereka adalah ‘subjek-subjek nakal’ yang tidak memble pada rezim kebudayaannya, mencari bentuk ‘sakinah’ lain yang lebih menjanjikan. Bahkan boleh jadi, pilihan untuk bercerai atau tidak menikah sekalipun juga merupakan upaya mencari ‘sakinah’.

Category Exhibition